<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>GudAnGku!</title>
	<atom:link href="http://www.wiwikwae.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.wiwikwae.com</link>
	<description>dimana aku bisa menyimpan sesuatu ...</description>
	<lastBuildDate>Mon, 23 Apr 2012 10:02:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Peluk</title>
		<link>http://www.wiwikwae.com/2012/04/peluk.html</link>
		<comments>http://www.wiwikwae.com/2012/04/peluk.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2012 09:57:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwikwae</dc:creator>
				<category><![CDATA[FEATURED]]></category>
		<category><![CDATA[GUDANG POJOK]]></category>
		<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wiwikwae.com/?p=216</guid>
		<description><![CDATA[Ah, mungkin saja ini pengaruh emosi bulanan. Atau mungkin saja ini hanya pengaruh penatnya otak berpikir tentang pekerjaan sehingga membutuhkan untuk berpikir dan berkhayal tentang sesuatu yg lebih ringan dan menyenangkan. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Meeting telah usai, dan aku mulai khawatir. Otak ini, jika tidak ada hal sangat penting untuk dipikirkan, selalu saja terisi oleh lamunan akanmu. Entah kapan mulainya, mungkin sejak kemarin, atau mungkin saja sudah sejak pertama kali saat aku mulai menyadari kehadiranmu. Tapi sudahlah, aku terlalu lelah untuk mengingat-ingat kapan otak ini mulai dipenuhi khayalan tak bermutu. Khayalan sederhana akan sebuah pelukan.</p>
<p>Iya, pelukan.</p>
<p>Semacam ini&#8230; <a href="http://www.wiwikwae.com/wp-content/uploads/2012/04/smp4218945368.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-1229" title="smp4218945368" src="http://www.wiwikwae.com/wp-content/uploads/2012/04/smp4218945368-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a></p>
<p style="text-align: left;">atau mungkin yang sedikit intim seperti ini . . .<a href="http://www.wiwikwae.com/wp-content/uploads/2012/04/culs109193.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-1230" title="culs109193" src="http://www.wiwikwae.com/wp-content/uploads/2012/04/culs109193-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a></p>
<p style="text-align: left;">Ah, mungkin saja ini pengaruh emosi bulanan. Atau mungkin saja ini hanya pengaruh penatnya otak berpikir tentang pekerjaan sehingga membutuhkan untuk berpikir dan berkhayal tentang sesuatu yg lebih ringan dan menyenangkan.</p>
<p style="text-align: left;">Kenapa harus serba mungkin? Bukankah ia telah ada dan senantiasa ada untukmu? Bukankah dia pernah berkata bahwa berada didekatmu membuatnya tak mampu melakukan apapun selain binar cerita dan tawa malu-malu?</p>
<p style="text-align: left;">+ Aku selalu grogi kalau berada di dekatmu</p>
<p style="text-align: left;">Suatu kali kamu pernah mengatakan itu padaku. Dan saat mendengar itu, aku jadi dua kali lebih grogi lagi untuk menanggapinya. Ah ya&#8230; tertawakanlah kebodohanku, kebodohan kita. Tapi dengan kebodohan itu, aku jadi tahu, bahwa kehadiran kita berdua tidak sekedar nafsu. Bahwa bisa menikmati sisa waktu di sepenggal hari dengan hanya tertawa malu-malu adalah saat yang menyenangkan untuk selalu diulang dan diulang. Bahwa hanya dengan bercakap-cakap dan tertawa berdua, membuat kita jadi tak pernah siap untuk tak bersama.</p>
<p style="text-align: left;">Dan kemarin&#8230;. aku semakin tahu bahwa aku ingin melakukan peluk ini <a href="http://www.wiwikwae.com/wp-content/uploads/2012/04/hugh2.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1231" title="hugh2" src="http://www.wiwikwae.com/wp-content/uploads/2012/04/hugh2.jpg" alt="" width="116" height="116" /></a> &#8230; hanya kepadamu.</p>
<p style="text-align: left;">Sampai senja tiba&#8230;</p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">Salam,</p>
<p style="text-align: left;">_Wiwikwae</p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">*Tulisan iseng di sore yg padat akan timbunan pekerjaan*</p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">Catt : foto diambil dari <a href="http://www.inmagine.com">inmagine</a> dan hasil <em>googling</em></p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">
<p><img src="file:///C:/DOCUME~1/Wiwik/LOCALS~1/Temp/moz-screenshot.jpg" alt="" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wiwikwae.com/2012/04/peluk.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Huma Di Atas Bukit</title>
		<link>http://www.wiwikwae.com/2012/01/huma-di-atas-bukit.html</link>
		<comments>http://www.wiwikwae.com/2012/01/huma-di-atas-bukit.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2012 10:53:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwikwae</dc:creator>
				<category><![CDATA[FEATURED]]></category>
		<category><![CDATA[GUDANG POJOK]]></category>
		<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wiwikwae.com/?p=1204</guid>
		<description><![CDATA[Seiring dengan pertambahan usia, saya masih tetap menyukainya. Masih suka terdiam kala mendengar lagu itu diputar, menikmatinya, dan selalu saja imajinasi saya bermain kala lirik lagu bait kedua itu terdengar. Gambaran secara umum masih tetap sama seperti gambaran saat kanak-kanak, namun cara menikmatinya tidak lagi sama]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.wiwikwae.com/wp-content/uploads/2012/01/beautiful-hill-house-infinity-pool-interior-design-Favim.com-1440621.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1208" title="beautiful-hill-house-infinity-pool-interior-design-Favim.com-144062" src="http://www.wiwikwae.com/wp-content/uploads/2012/01/beautiful-hill-house-infinity-pool-interior-design-Favim.com-1440621-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p>Benar, itu memang judul lagu, yang dinyanyikan oleh Ahmad Albar sewaktu masih gabung di God Bless, dan sekarang dinyanyikan kembali oleh Ari Lasso.</p>
<p>Entah kenapa saya begitu menyukai lagu ini. Lagu yang pertama kali saya dengar saat masih duduk di bangku SD melalui kaset yg sering diputar oleh kakak saya. Saya menyukai semuanya, mulai dari intro, lirik, serta cara Ahmad Albar menyanyikannya membuat lagu tersebut tertancap kuat dalam ingatan. Setiap kali dengar intro lagunya, saya pasti langsung terdiam, menikmati.. dan juga menghayatinya. Selalu. Apalagi saat masuk pada bait kedua, dengan lirik yang teramat saya suka :</p>
<blockquote><p><em>Di sana kutemukan bukit yang terbuka</em></p>
<p><em>Seribu cemara halus mendesau</em></p>
<p><em>Sebatang sungai membelah huma yang cerah</em></p>
<p><em> </em><em></em><em></em><em>Berdua kita bersama tinggal di dalamnya</em></p></blockquote>
<p>Mendengarkan lirik ini, imajinasi saya pasti langsung membentuk sebuah gambaran : rumah mungil di atas bukit yang menghijau penuh bunga, Pohon-Pohon Cemara berdiri berjejer di sepanjang sungai kecil dengan air yang bening plus bebatuan di tengahnya. Tenang, damai, teduh, hijau, asri.</p>
<p>Saat masa kanak-kanak, saya membayangkan berlarian bebas di atas bukit, geluntungan, mencium aroma wangi bunga, mendengarkan gemericik air dan sesekali mainan air di sungai dengan riak ombak kecil tak berbahaya. Sungguh, gambaran surga buat saya&#8230;</p>
<p>Seiring dengan pertambahan usia, saya masih tetap menyukainya. Masih suka terdiam kala mendengar lagu itu diputar, menikmatinya, dan selalu saja imajinasi saya bermain kala lirik lagu bait kedua itu terdengar. Gambaran secara umum masih tetap sama seperti gambaran saat kanak-kanak, namun cara menikmatinya tidak lagi sama. Tidak lagi tergambar berlarian, geluntungan, dan mainan air. Gambaran itu sudah sirna, tergantikan dengan suasana yg lebih syahdu merayu : Menikmati udara pagi bersama yang terkasih, duduk-duduk di teras berdua sembari menikmati senja yang tak selalu jingga, tenang, syahdu, penuh kemesraan dan tawa yang menggoda. Tetap surga buat saya&#8230;</p>
<p>Entah karena lagu tersebut, entah karena saya memang sudah bosan tinggal di perkotaan yang penuh dengan kegembiraan semu, hingar bingar sepi, dan segala pertikaian yang melelahkan, maka kemudian saya benar-benar terobsesi untuk mewujudkan hunian yang demikian : membeli rumah di daerah yang masih hijau penuh dengan pepohonan besar, jauh dari hingar bingar perkotaan, tenang, dan (harapannya) damai. Semakin pelosok daerahnya dengan penduduk yang masih ramah, semakin saya suka.</p>
<p>Kenapa damai masih menjadi sebuah harapan?</p>
<p>Coba saja lihat sekeliling kita, banyak hal tidak mengenakkan terjadi diakibatkan karena kita tidak bisa berdamai dengan diri sendiri. Sebenarnya hati sudah lelah ingin menyudahi setiap pertikaian, baik pertikaian hati, maupun pertikaian rasa. Tapi atas nama gengsi semua itu tetap dipelihara. Begitulah&#8230; tapi selagi masih ada harapan, akan selalu muncul sebuah kemungkinan.</p>
<p>Saya masih terus mencari rumah idaman, masuk dari pelosok desa satu ke desa lainnya. Tidak mempedulikan tatapan heran kakak saya yang tetap setia menemani.</p>
<p>&#8220;Kamu tidak terbiasa tinggal di tempat sepi seperti ini. Kamu bakalan bosan. Pikirkan lagi lah&#8230;&#8221;</p>
<p>Kalimat itu sudah saya dengar entah untuk ke berapa kali, terkadang sempat terpengaruh juga, sempat melipir mencari rumah di daerah perkotaan. Namun gambaran &#8220;surga&#8221; itu ternyata lebih menggoda. Dan karena itulah saya tetap semangat mencari&#8230; Mungkin tidak harus sama persis seperti yang ada di gambaran imajinasi, mungkin saya hanya butuh tempat nan hijau yang relatif tenang, serta jauh dari hingar bingar. Mungkin juga karena saya hanya ingin menikmati kemesraan berdua bersama yang terkasih tanpa diganggu oleh keriuhan semu. Atau mungkin saja saya adalah sang egois yang ingin menikmati kebahagiaan berdua bersama lelakiku sendirian, tak hendak membaginya dengan yang lain.</p>
<p>Ah, biarkan saja semua kemungkinan itu melayang&#8230; karena seperti yang saya bilang, kemungkinan adalah buah dari sebuah harapan. Jadi, apa lagi yang harus dirisaukan?</p>
<blockquote><p><em>Nampaknya tiada lagi yang diresahkan</em></p>
<p><em>Dan juga tak digelisahkan</em></p>
<p><em>Kecuali dihayati</em></p>
<p><em>Secara syahdu bersama</em></p>
<p><em> </em><em></em><em></em><em></em><em>Selamanya bersama&#8230;. selamanya</em></p></blockquote>
<p>Would you?</p>
<p>salam,</p>
<p>wiwikwae</p>
<p>ps : gambar hanya pemanis belaka, yang diambil dari <a href="http://favim.com/image/144062/">favim.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wiwikwae.com/2012/01/huma-di-atas-bukit.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Efektifitas Buzzer</title>
		<link>http://www.wiwikwae.com/2011/11/efektifitas-buzzer.html</link>
		<comments>http://www.wiwikwae.com/2011/11/efektifitas-buzzer.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Nov 2011 11:06:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwikwae</dc:creator>
				<category><![CDATA[FEATURED]]></category>
		<category><![CDATA[GUDANG BERITA]]></category>
		<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wiwikwae.com/?p=1177</guid>
		<description><![CDATA[Menurut saya, #efektifitasbuzzer itu dimulai dari awal saat pemilihan. Pemaparan di atas tentang #efektifitasbuzzer dengan melihat impresi dan klik ratio adalah laporan hasil kerja buzzer yang telah terpilih. Jadi kalo ada ketakutan tidak ingin membeli "kucing dalam karung", ya dari awal saat pemilihan sudah harus jeli.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.wiwikwae.com/wp-content/uploads/2011/11/bees-buzz.png"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1182" title="bees-buzz" src="http://www.wiwikwae.com/wp-content/uploads/2011/11/bees-buzz-300x243.png" alt="" width="300" height="243" /></a></p>
<p>Kemarin sore,</p>
<p>Terjadi sedikit keributan tentang bagaimana mengukur #efektifitasbuzzer yang hanya bisa dilihat oleh sedikit orang saja. Berhubung saya mempunyai baskom yg bisa bergoyang, maka setiap keributan sekecil apapun biasanya tertangkap oleh baskom saya.</p>
<p><a href="http://donnybu.com/2011/11/28/menghitung-efektifitas-buzzer-twitter-dengan-click-ratio/">#efektifitasbuzzer</a> yang disampaikan oleh mas dbu adalah tindakan standar yg dilakukan oleh para <em>digital agency </em>yang menggunakan jasa <em>buzzer</em>. Pada saat proyek kampanye online telah disetujui konten + strateginya, maka tindakan standar yang biasa dilakukan adalah :</p>
<p>1. Jika konten tweet berisi link yang harus disebarkan, otomatis akan menggunakan jasa pemendek url. Dalam hal ini ada beberapa pilihan :</p>
<p>* bit.ly : web khusus untuk pemendek url. Itu berarti dibutuhkan 2 tab, twitter web &amp; bit.ly.</p>
<p>* hootsuite : <em>twitter client</em>, sudah ada fasilitas pemendek url</p>
<p>* tweetdeck : <em>twitter client</em>, sudah ada fasilitas pemendek url.</p>
<p>* Tap11 : <em>twitter client</em> sudah ada fasilitas pemendek url.</p>
<p>* Yorufukurou : <em>twitter client</em> (khusus pengguna mac), sudah ada pemendek url.</p>
<p>Yang saya sebutkan di atas adalah yang lazim digunakan oleh pengguna twitter, dimana semuanya ada laporan analisanya tentang : berapa jumlah link diklik, penyebarannya, siapa saja yg ngeklik, dan lain-lain laporan standar analitik.</p>
<p>Jika konten tweet yang disebarkan para <em>buzzer</em> tidak mengandung <em>link</em>, maka yang akan dilihat adalah impresinya. Seperti yang sudah diketahui, impresi itu diukur dari jumlah follower + banyaknya RT dan ada pula yang menyisipkan banyaknya mention pada rumus hitungan impresi tersebut. Meski rumus impresi ini masih jadi perdebatan antara saya dan beberapa teman karena keakuratannya, tapi ya sudahlah&#8230; kita gunakan dulu rumusan yang ada sampai ada formula yang mendekati akurat tentang pengukuran impresi.</p>
<p>Kenapa saya bilang kurang akurat?</p>
<p>Mari kita ambil contoh akun @wiwikwae yang mem-<em>follow </em>1.104 orang. Dari pengalaman saya mantengin lini masa, dalam kurun waktu kurang lebih 12 jam, yang bersliweran di TL saya tidak lebih dari 200 akun (ini saya mengambil angka maksimal dari hitungan yg pernah saya lakukan). Itu berarti, ada banyak akun yg tidak saya baca. Kemungkinan memang tidak sedang update saat saya mantengin TL, koneksi lemot sehingga update dia terlanjur tertimpa update akun  lain, atau kemungkinan memang akun tsb sudah tidak aktif lagi (dan saya masih tidak punya waktu untuk cek satu-per satu dari 1000 an akun tsb mana yg sdh tidak aktif lagi). Itu berarti, impresi yang didasarkan atas jumlah follower sudah tidak bisa dikatakan akurat, karena kenyataannya, saya bahkan tidak membaca semua akun yang saya follow.</p>
<p>Tapi lupakan dulu soal impresi, sampai nanti saya menemukan formula yg lebih mendekati logika untuk hitungan tersebut.</p>
<p>Oke, kembali ke soal #efektifitasbuzzer</p>
<p>Menurut saya, #efektifitasbuzzer itu dimulai dari awal saat pemilihan. Pemaparan di atas tentang #efektifitasbuzzer dengan melihat impresi dan klik ratio adalah laporan hasil kerja buzzer yang telah terpilih. Jadi kalo ada ketakutan tidak ingin membeli &#8220;kucing dalam karung&#8221;, ya dari awal saat pemilihan sudah harus jeli.</p>
<p>Saya, sebagai seorang pengguna jasa <em>buzzer</em> untuk beberapa kampanye online yang saya tangani, memilih <em>buzzer</em> dengan metode sederhana.</p>
<p>1. Pada saat ada kebutuhan menggunakan jasa <em>buzzer</em>, biasanya saya akan &#8220;mantengin TL&#8221;, kemudian dari hasil kegiatan tersebut biasanya saya akan menemukan akun-akun yang saya incar sebagai tim <em>buzzer</em>. Well, saya jarang menggunakan <em>buzzer </em>yang &#8220;sudah lazim dipakai&#8221; secara terus menerus. Sebagai seorang <strong>mamahbaskom</strong>, biasanya saya menciptakan <em>buzzer-buzzer</em> baru dari hasil penerawangan akan potensi tersebut.</p>
<p>2. Cara sederhana melihat potensi <em>buzzer</em> disamping jumlah <em>follower</em> adalah dengan melihat respon setiap tweet yg diterima oleh sebuah akun. Semakin banyak respon yg diterima per tweet semakin berpeluang besar untuk masuk ke daftar list <em>buzzer</em> saya. Kenapa saya begitu mempedulikan jumlah respon? Karena itulah impresi nyata yang bisa saya lihat, di luar rumusan yg masih saya perdebatkan tersebut. Berdasarkan pengamatan selama ini, <em>buzzer-buzzer</em> ternama itu per tweetnya  rata-rata direspon tidak lebih dari 10 akun berbeda. Ada sedikit akun yang setiap kali ngetweet selalu direspon oleh lebih dari 20 akun. Jadi, kalo sebuah akun bisa mendapat respon lebih dari 5 akun per tweet nya, maka menurut saya, dia layak saya masukkan ke dalam list <em>buzzer </em>saya.</p>
<p>3. Untuk melihat respon pada sebuah akun, cara termudah adalah dengan menggunakan kolom <em>search</em>. Masukkan nama akun yg ingin &#8220;dipantau&#8221;,  amati keseluruhan dari hasil <em>searching</em> tersebut. Dari situ akan muncul sebuah kesimpulan seberapa besar impresi nyata dari akun tsb.</p>
<p>4. Soal <em>follower</em>, saya jarang mempermasalahkan hal ini, karena fokus saya sebenarnya adalah pada impresi alias <em>engagement </em>yang terjadi. Namun karena klien kadang mempermasalahkan hal ini, ya terpaksa saya menuruti permintaannya. Mencari akun-akun dengan jumlah <em>follower</em> seperti yang diinginkan. Saya menganalogikan jumlah follower itu sama seperti jumlah oplah pada media cetak. Jika kita memasang iklan pada sebuah koran yang punya oplah 3ooo eksemplar, belum tentu iklan kita akan dilihat oleh jumlah yang sama. Bisa jadi yang lihat lebih banyak, bisa jadi lebih sedikit dari jumlah tersebut. Tapi toh, dengan rumusan apapun, angka 3000 itu lebih menjanjikan dari 1000 eksemplar.</p>
<p>5. Namun bicara soal <em>follower </em>di twitter, perlu diketahui bahwa ada fenomena yang namanya BOT. Saya tidak bisa menjelaskan pengertian BOT secara teknis, namun secara awam, BOT itu adalah akun-akun robot yang diciptakan dengan tujuan tertentu. Tidak ada &#8220;kehidupan&#8221; dalam akun tersebut, namanya juga robot, hanya melakukan sebuah tindakan sesuai program yg dibuat. Jadi, menurut saya, buat apa punya 3000 follower tapi sebagian besar adalah BOT? Itulah kenapa kemudian saya lebih mementingkan respon/<em>engagement</em> daripada follower, karena ini gambaran nyata sebuah jalinan sosial yang terjadi.</p>
<p>Namun kembali lagi, yg lebih ideal adalah follower banyak dengan jumlah respon yang sama banyaknya. Tapi, bukankah kondisi ideal itu adalah sebuah ilusi? *halah*</p>
<p>6. Poin terpenting pada sebuah kampanye online tetap saja pada strateginya. Baik itu strategi pemilihan buzzer, maupun strategi dalam menjalankan kampanye tersebut. Semakin kreatip dan fresh, maka akan semakin dapat menarik perhatian. Pemilihan buzzer ok, tapi strategi tidak ok, maka hasil yang diinginkan tidak akan maksimal.</p>
<p>Begitulah&#8230;.</p>
<p>Sebenarnya masih banyak sekali yang harus saya tulisankan, tapi sangatlah tidak bijak jika saya menuliskan semuanya dalam satu artikel. Masih ada beberapa topik bahasan yang terkait dengan hal ini yang bisa saya tuliskan menjadi beberapa artikel berdasarkan pengalaman saya main-main di dunia kerja yang masih baru ini. Dunia kerja yang masih dinamis, karena akan banyak improvisasi untuk mencapai hasil yang mendekati ideal, dunia yang bahkan kata buzzer sendiri artinya belum masuk dalam daftar KBBI kita.</p>
<p>salam nge buzz,</p>
<p>-wiwikwae-</p>
<p>Catatan : Yang saya tulis di atas adalah berdasarkan pengalaman selama lebih dari 3 tahun menekuni kegiatan ini. Salah dan kurangnya saya mohon maaf <img src='http://www.wiwikwae.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>*foto diambil dari <a href="http://www.sparkletags.com/backgrounds/png/cute/bees-buzz/">beebuzz</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wiwikwae.com/2011/11/efektifitas-buzzer.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ramuan Kejujuran</title>
		<link>http://www.wiwikwae.com/2011/11/ramuan-kejujuran.html</link>
		<comments>http://www.wiwikwae.com/2011/11/ramuan-kejujuran.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Nov 2011 02:08:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwikwae</dc:creator>
				<category><![CDATA[FEATURED]]></category>
		<category><![CDATA[GUDANG INSPIRASI]]></category>
		<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wiwikwae.com/?p=1168</guid>
		<description><![CDATA[“Kau tahu, Lampu? Aku menemukan sesuatu sehingga setiap orang akan mengatakan kebenaran.”

“Aku sekarang mencampur penghalau kebohongan dengan garam murni! Hati-hati, karena campuran ini bisa meledak....”]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.wiwikwae.com/wp-content/uploads/2011/11/lampu.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1172" title="lampu" src="http://www.wiwikwae.com/wp-content/uploads/2011/11/lampu.jpg" alt="" width="180" height="158" /></a></p>
<p>Suatu hari di Kota Bebek,</p>
<p>Penjual koran berteriak menawarkan dagangannya :</p>
<blockquote>
<p style="padding-left: 30px;">“ Berita terakhir! Menteri keuangan tidak jujur mengelola keuangan negara!”</p>
</blockquote>
<p>Perkelahian antara suami istri di jalan :</p>
<blockquote>
<p style="padding-left: 30px;">“Pembohong! Sepanjang siang kau hanya main bilyar!”</p>
<p style="padding-left: 30px;">“Tidak sayang, seharian aku jalan di Taman.”</p>
</blockquote>
<p>Sang Istri memukulkan gagang payung disela-sela kejar-mengejar dengan suaminya.</p>
<p>Iklan di radio :</p>
<blockquote>
<p style="padding-left: 30px;">&#8230;.. INILAH KEBENARAN&#8230;..</p>
</blockquote>
<p>Lang Ling Lung melihat itu semua, dan ia menjadi prihatin,</p>
<blockquote>
<p style="padding-left: 30px;">“ Yah, Lampu, di dunia ini kadang-kadang kejujuran dan kebohongan tidak ada bedanya.”</p>
</blockquote>
<p>Sebagai seorang penemu, maka Lang Ling Lung pun bereksperimen untuk menemukan sebuah ramuan kejujuran,</p>
<blockquote>
<p style="padding-left: 30px;">“Kau tahu, Lampu? Aku menemukan sesuatu sehingga setiap orang akan mengatakan kebenaran.”</p>
</blockquote>
<blockquote>
<p style="padding-left: 30px;">“Aku sekarang mencampur penghalau kebohongan dengan garam murni! Hati-hati, karena campuran ini bisa meledak&#8230;.”</p>
</blockquote>
<p>Dan ramuan itu pun meledak tepat di saat Gerombolan Si Berat yang sejak awal sudah mengetahui rencana Lang Ling Lung ingin merebut ramuan kejujuran tersebut. Rencananya, mereka ingin menggunakannya untuk kepentingan mendapatkan nomor kode rahasia mesin uang Kota Bebek.</p>
<p>Ramuan yang sudah meledak tersebut, molekul-molekulnya berkumpul membentuk sebuah awan yang kemudian berarak menuju ke tengah Kota Bebek dan turun menjadi titik-titik air hujan. Seluruh Kota Bebek basah oleh guyuran air hujan dari ramuan kejujuran milik Lang Ling Lung. Alhasil, terjadilah kegemparan!</p>
<p>Laki-laki berpenampilan sopan sedang bercakap-cakap dengan seorang wanita,</p>
<blockquote>
<p style="padding-left: 30px;">“ Jadi, anda pikir saya adalah tipe laki-laki yang sopan? Baiklah, akan saya jelaskan&#8230;.”</p>
<p style="padding-left: 30px;">PLOK!</p>
</blockquote>
<p>Percapan antar teman,</p>
<blockquote>
<p style="padding-left: 30px;">“Jadi, aku botak? Katakan lagi kalo berani!”</p>
<p style="padding-left: 30px;">BUK!</p>
</blockquote>
<blockquote>
<p style="padding-left: 30px;">“Wajahmu jelek! Hahahhaha&#8230;&#8230;”</p>
<p style="padding-left: 30px;">PLAK!</p>
</blockquote>
<blockquote>
<p style="padding-left: 30px;">BUG!</p>
<p style="padding-left: 30px;">GRRR!</p>
<p style="padding-left: 30px;">GABRUKS!</p>
<p style="padding-left: 30px;">SADUKS!</p>
</blockquote>
<p>GLEK! &#8230;&#8230; Lang Ling Lung pun hanya bisa menelan ludah. Ia tak pernah berpikir bahwa kebenaran bisa menimbulkan keributan.</p>
<p>Di akhir cerita, Lang Ling Lung terpaksa harus mengungsi ke pulau terpencil karena seluruh warga kota bebek mencarinya, terkait pengakuannya (yang juga diakibatkan oleh efek dari ramuan kejujuran) tentang temuannya tersebut.</p>
<p>Ya. Cerita di atas hanya cuplikan dari cerita Donal Bebek yang pernah saya baca. Saya jadi berpikir, jika di kehidupan nyata hal tersebut terjadi, apakah kejadiannya akan sama seperti di Kota Bebek? Apakah akan ada keributan karena setiap orang menjadi jujur dengan apa yang ia rasakan dan katakan?</p>
<p>Lalu saya mencoba berpikir lebih sederhana lagi, bisakah saya menerima sebuah kejujuran walau itu terasa pahit dan menyakitkan buat saya? Bisakah saya tidak menjadi benci dan marah kala seseorang mengatakan dengan sejujurnya dari kondisi fisik, tingkat kecerdasan, lagak, sikap,<em> </em>cara berhubungan yg buruk, cara pandang yang mungkin salah, dan hal-hal lainnya yang terkait dengan saya?</p>
<p>Jawabannya, Tidak Selalu. Kemungkinan saya tidak akan selalu bisa menerima kejujuran seperti tersebut di atas. Kemungkinan akan ada langkah-langkah pembenaran, ngeyel, sebel, yang akhirnya bisa saja berdampak secara subyektif ke pembawa pesan kejujuran tersebut.</p>
<p>Yang lebih parahnya lagi, kemungkinan bisa berujung pada pertengkaran dan perkelahian. Jika sudah demikian, sungguh mengerikannya dampak dari sebuah kejujuran.</p>
<p>Dari sini saya jadi berpikir, terkadang menjadi jujur tidak selalu “baik”.</p>
<p>Lalu, apa yang musti kita lakukan? Menjadi tidak jujur, atau menjadi pribadi yang berlapang dada menerima kejujuran yang tak mengenakkan dan menyakitkan tersebut?</p>
<p>Keduanya saya yakin tidak mudah untuk dilakukan. Namun, bukankah kita selalu punya pilihan?</p>
<p>Apa yang menjadi pilihanmu?</p>
<p>salam,</p>
<p>-wiwikwae-</p>
<p><em>Foto diambil dari<a href="http://letsing4joy.blogsome.com/images/thumb-helper.jpg"> letsing4joy</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wiwikwae.com/2011/11/ramuan-kejujuran.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Babat Gongso, Semarang, dan Kenangan</title>
		<link>http://www.wiwikwae.com/2011/09/babat-gongso-semarang-dan-kenangan.html</link>
		<comments>http://www.wiwikwae.com/2011/09/babat-gongso-semarang-dan-kenangan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Sep 2011 04:09:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwikwae</dc:creator>
				<category><![CDATA[FEATURED]]></category>
		<category><![CDATA[GUDANG JALAN-JALAN]]></category>
		<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wiwikwae.com/?p=1148</guid>
		<description><![CDATA[Babat Gongso? Makanan jenis apa pula itu? Jeroan? Ih, kolesterol!

Reaksi seperti itu sudah sering saya terima kala menawarkan Babat Gongso sebagai opsi menu makanan yang layak coba di Semarang. Namun, setelah mencicipinya, reaksi tersebut pasti akan berubah.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah puas makan di Toko Legendaris &#8220;Oen&#8221; yang berada di Jl. Pemuda Semarang,</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Besok pagi sarapan di luar aja yuk! Bosan makan di hotel. Cari yang khas Semarang gitu.&#8221;</em></p></blockquote>
<p><a href=" http://www.wiwikwae.com/2011/09/babat-gongso-s…g-dan-kenangan.html">Babat gongso</a>. Nama itu seketika terlintas dalam pikiran saya. Sebenarnya Soto Ayam lebih dulu terlintas sih&#8230; namun karena saya harus mengenalkan sesuatu yang beda dari Semarang, yang belum diketahui banyak orang, maka Babat Gongso adalah pilihan yang tepat.</p>
<p><a href="http://www.wiwikwae.com/wp-content/uploads/2011/09/babat-gongso.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1151" title="babat gongso" src="http://www.wiwikwae.com/wp-content/uploads/2011/09/babat-gongso-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<blockquote><p><em>Babat Gongso? Makanan jenis apa pula itu? Jeroan? Ih, kolesterol!</em></p></blockquote>
<p>Reaksi seperti itu sudah sering saya terima kala menawarkan Babat Gongso sebagai opsi menu makanan yang layak coba di Semarang. Namun, setelah mencicipinya, reaksi tersebut pasti akan berubah.</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Gila! Enak bener. Sumpah. Enak ini. Kenapa nggak dari kemarin menyarankan makan ini?&#8221;</em></p></blockquote>
<p>Mata yang bagus milik kawan saya tersebut berkerjap-kerjap sebagai isyarat bahwa ia puas dengan rasa Babat Gongso tersebut.</p>
<p><a href=" http://www.wiwikwae.com/2011/09/babat-gongso-s…g-dan-kenangan.html">Babat Gongso</a>, saya mengenal makanan ini dari Almarhum Ayah saya yang hobi makan. Setiap hari libur, ayah saya selalu mengajak jalan-jalan pagi sembari mencari sarapan di luar rumah. Babat Gongso Pak Karmin yang terletak di pinggiran kali Mberok menjadi salah satu tempat favorit kami. Sering kami mengunjungi tempat ini, mencoba nasi goreng babat dan babat gongsonya, plus acar yang rasanya hingga kini masih tertancap kuat dalam pikiran saya.</p>
<p>Rasa <a href=" http://www.wiwikwae.com/2011/09/babat-gongso-s…g-dan-kenangan.html">Babat Gongso</a> ini pedes dan manis dalam takaran yang sesuai, plus acar yang rasanya menurut saya sangat khas, atau dalam bahasa gaul &#8220;Pak Karmin Banget deh lo!&#8221; (ga gitu juga sih&#8230;)</p>
<p>Tidak banyak yang menjual babat gongso di Semarang. Tak heran, makanan jenis ini sangat susah ditemukan. Beruntung, <strong>The Legend &#8220;Babat Gongso Pak Karmin&#8221;</strong> masih setia berjualan di pinggir Kali Mberok. Tidak pindah tempat, dan rasanya pun menurut saya tidak mengalami perubahan. Masih sama seperti saat ayah saya menggandeng tangan kecil saya kala memasuki warung tersebut.</p>
<p>Penasaran dengan rasanya? Berikut resep sederhana dari saya, yang telah di uji coba di dapur milik &#8220;uhuk ehem grok&#8221; sbb :</p>
<p><strong>Bahan :</strong></p>
<p>Babat</p>
<p>Cabe (digiling halus)</p>
<p>Bawang merah (diiris)</p>
<p>Bawang putih (dihaluskan)</p>
<p>Kecap manis</p>
<p>Salam, Lengkuas, Sereh</p>
<p>Minyak goreng untuk menumis / gongso</p>
<p>* Semua dalam takaran secukupnya alias kira-kira <img src='http://www.wiwikwae.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Cara Membuat :</strong></p>
<p>Rebus babat beserta daun salam, lengkuas, sereh sampai empuk. Rempah-rempah tersebut selain untuk memberikan efek rasa juga untuk menghilangkan bau amis. Setelah babat empuk, potong-potong ukuran dadu atau sesuai selera.</p>
<p>Tumis bawang merah sampai harum, masukkan babat yang telah dipotong tadi, tumis agak lama, sampai babat terlihat agak mengering. Masukkan cabe dan bawang putih yang sudah dhaluskan, garam dan kecap secukupnya, plus sedikit air. Masak hingga semua bumbu remasuk (meresap) ke babat.</p>
<p>Babat Gongso siap dinikmati beserta kepulan nasi putih yang masih hangat. Jangan lupa, kecupan lembut di pipi atau kening sang terkasih akan menambah nikmatnya rasa Babat Gongso tersebut.</p>
<p>Pagi sudah mulai pecah, tergantikan dengan panas siang yang mulai terasa gatal di kulit. Saya meninggalkan warung Pak Karmin yang berada di Pinggir Kali Mberok tersebut. Babat gongso ini telah menorehkan kenangan sepanjang usia. Tentang rasanya, dan tentang banyak hal yang saya lalui bersama ayah saya kala menikmati makanan favorit kami ini.</p>
<p>Apakah kalian punya kenangan yang sama dengan makanan ini?</p>
<p>Salam,</p>
<p>-wiwikwae-</p>
<p>*Gambar diambil dari<a href="http://icipmakanan.blogspot.com/2011/05/babat-gongso.html"> icipmakanan</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wiwikwae.com/2011/09/babat-gongso-semarang-dan-kenangan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Senjakala Surat Kertas</title>
		<link>http://www.wiwikwae.com/2011/08/senjakala-surat-kertas.html</link>
		<comments>http://www.wiwikwae.com/2011/08/senjakala-surat-kertas.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Aug 2011 16:25:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwikwae</dc:creator>
				<category><![CDATA[FEATURED]]></category>
		<category><![CDATA[GUDANG BERITA]]></category>
		<category><![CDATA[GUDANG INSPIRASI]]></category>
		<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wiwikwae.com/?p=1139</guid>
		<description><![CDATA[Paska internet menjadi kebutuhan hampir setiap orang karena menjanjikan tehnologi yang lebih mempermudah segala macam urusan kita, surat kertas lambat laun terlupakan. Surat elektronik (E-mail) menggantikannya. Lebih simpel, karena tidak perlu beli kertas surat+perangko, dan tentu saja lebih cepat sampai. Kemudian kita terhanyut dalam segala kemudahan itu...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.wiwikwae.com/wp-content/uploads/2011/08/surat-kertas1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1142" title="surat kertas1" src="http://www.wiwikwae.com/wp-content/uploads/2011/08/surat-kertas1-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><em>&#8220;Jangan lupa tetap berkirim surat ya&#8230;&#8221;</em></p>
<p>Suatu kali seorang kawan dekat pernah berkata demikian kepadaku, dan aku mentertawakan keinginan sederhananya itu. Kenapa harus tetap berkirim surat via pos kalo ada cara yang lebih simpel? Email misalnya. Namun dia punya alasan lain, alasan yang menurutku bermuara pada sisi romantismenya semata.</p>
<p>Beberapa waktu kemudian, ketika saya membaca <a href="http://donnyverdian.net/2011/08/01/kpd-yth.html"><em>Project Kepada Yth nya Donny</em></a>, saya baru mengerti tentang alasannya tetap ingin berkirim kabar via surat kertas.</p>
<p>Terus terang, saya sudah lupa kapan terakhir kali berkirim  kabar via surat kertas. Jika tidak salah ingat, lebih dari 4 tahun saya sudah tidak pernah lagi saling berkirim surat kertas dengan kawan-kawan karib saya yg tersebar di beberapa tempat itu.</p>
<p>Padahal, jaman surat kertas masih <em>ngehits</em>, saya termasuk orang yang hobi surat-menyurat. Tak hanya sahabat yang tinggal di luar kota atau di luar negeri, terkadang sahabat yang tinggal di dalam kota pun saya surati. Memang iseng sih&#8230; Tapi begitulah&#8230;. Melihat kelebat Pak Pos yang berhenti di halaman rumah selalu membuat mata saya berbinar-binar. Seolah tamu yang dinanti datang mengunjungi kita. Membaca tiap lembar surat kertas tersebut pun selalu membuat saya cekikikan sendiri. Di samping isinya yang selalu menghibur, mengamati tulisannya sembari membayangkan si penulis sedang dalam  kondisi seperti yang tertuang dalam isi surat tersebut sangatlah menyenangkan.</p>
<p>Tapi itu duluuu&#8230;</p>
<p>Paska internet menjadi kebutuhan hampir setiap orang karena menjanjikan tehnologi yang lebih mempermudah segala macam urusan kita, surat kertas lambat laun terlupakan. Surat elektronik (<em>E-mail</em>) menggantikannya. Lebih simpel, karena tidak perlu beli kertas surat+perangko, dan tentu saja lebih cepat sampai. Kemudian kita terhanyut dalam segala kemudahan itu&#8230;</p>
<p>Dan kita lupa&#8230;</p>
<p>Bahwa banyak manfaat saat kita menulis dengan menggunakan tangan. Berdasarkan serangkaian tes yang dilakukan oleh sebuah tim peneliti dari <em>University of Stavangers Reading Center</em>, Norwegia, menulis dengan tangan dapat menimbulkan pengalaman sensorik yang dapat mengaktifkan  dua  bagian otak yang berbeda. Pengalaman ini tidak kita dapatkan ketika kita menulis menggunakan alat bantu seperti <em>keyboard</em>.</p>
<p>Salah satu peneliti, Anne Mangen menjelaskan, tubuh kita didesain untuk berinteraksi dengan dunia di sekitar kita dan memiliki “alat” untuk menggunakan obyek fisik untuk mengerjakan tugas, misalnya buku dan pena. Mangen dan timnya juga mengatakan bahwa aktifitas ini bermanfaat pada jejak memori motor di bagian otak yang disebut sensorik motor, yang akan mendorong kemampuan visual dalam mengenal huruf dan angka.</p>
<p>Disamping itu, menulis dengan tangan juga membantu daya ingat. Jadi, jika ada yang merasa daya ingatnya mulai menurun, cobalah terapi sederhana ini, menulis dengan tangan.</p>
<p>Hingga di suatu sore, pergilah saya menuju toko buku guna membeli peralatan dan perlengkapan surat menyurat. Mulai dari kertas surat, pulpen bergliter dengan aneka macam warna, dan tentu saja amplop. Tak sabar saya hendak menuangkan apa yang ada di kepala melalui tulisan tangan yang nantinya akan saya kirimkan ke seorang sahabat.</p>
<p>Sudah berlembar-lembar kertas surat saya remas dan buang ke bawah. Tidak puas. Itu alasan saya terhadap beberapa kucelan kertas yang berserakan di kaki. Setengah jam berlalu, dan saya belum juga bisa merangkai kata-kata dengan baik, bersih tanpa coretan, serta nyeni pada selembar kertas yang ukurannya hanya separo dari ukuran buku tersebut.</p>
<p>Hellooo&#8230;.. kemana perginya keahlian saya merangkai kata-kata seru, lucu nan menghibur itu? Kenapa sudah hampir satu jam namun satu paragraf pun belum juga jadi? Hampir saja saya menyerah, jika tidak ingat nasihat dari Donny, <em>“Teruslah berusaha, nanti jika otakmu sudah relaks, kamu akan bisa menuangkan apa yg ada di kepalamu melalui tulisan tanganmu sendiri.”</em></p>
<p>Benar saja, akhirnya entah di lembar kertas ke berapa saya berhasil menuangkan apa yang ada di kepala saya melalui tulisan tangan. Masih sedikit berantakan, namun sudah tidak ada coretan pada kata-kata yang tertulis. Dan saya tersenyum geli sendiri melihat dan membaca hasil tulisan tersebut.</p>
<p>Saya lipat surat tersebut, memasukkannya ke dalam amplop, dan berniat mengirimkannya kepadamu. Sebagai kejutan tentunya. Namun saya lupa&#8230;.. jika saya tak lagi punya alamat surat milikmu.</p>
<p>Langit semburat kekuningan, kupandangi alamat email milikmu sembari masih terus berpikir, haruskah aku mengirim email yang berisi pertanyaan tentang alamat tempat tinggalmu?</p>
<p>Salam,</p>
<p>-wiwikwae-</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wiwikwae.com/2011/08/senjakala-surat-kertas.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi Indonesia yang Beda</title>
		<link>http://www.wiwikwae.com/2011/08/menjadi-indonesia-yang-beda.html</link>
		<comments>http://www.wiwikwae.com/2011/08/menjadi-indonesia-yang-beda.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Aug 2011 05:49:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwikwae</dc:creator>
				<category><![CDATA[FEATURED]]></category>
		<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wiwikwae.com/?p=1130</guid>
		<description><![CDATA[Hal-hal semacam inilah yang kemudian menimbulkan kecemburuan sosial dan kebencian antara kedua belah pihak. Bahkan stigma negatif terhadap Warga Tionghoa juga muncul pada masa Pangeran Diponegoro (1825 – 1830) dimana wanita-wanita Tionghoa dianggap sebagai penyebab kekalahan Pasukan Diponegoro dan Sastradilaga (Tertulis dalam Serat Babad Diponegoro Maskumambang XXXIII).]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.wiwikwae.com/wp-content/uploads/2011/08/merah-putih.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1132" title="merah-putih" src="http://www.wiwikwae.com/wp-content/uploads/2011/08/merah-putih-300x214.jpg" alt="" width="300" height="214" /></a></p>
<p>Dia kembali cerita soal sahabat wanitanya itu dengan mata berbinar-binar. Sesekali dia terkekeh menceritakan kenangan-kenangan lucu mereka. Saya sempat menduga kalau dia pernah menyukai sahabatnya itu. Namun dia mengelak, dengan alasan karena sahabatnya itu Cina. <em>Well,</em> sedikit rasis memang.</p>
<p>Tapi memang begitulah kondisi yang terjadi di negara kita bukan?</p>
<p>Meski sekarang cenderung sudah lebih membaur, namun pengkotakkan hubungan sosial Tionghoa –Jawa masih tetap terasa. Peninggalan politik pecah belah Belanda yang membagi strata sosial di wilayah jajahannya, membuat Warga Tionghoa merasa lebih tinggi derajatnya daripada warga pribumi (Jawa). Hal inilah yang membuat kedua etnis tersebut merasa tidak layak untuk berhubungan lebih intim antara satu dengan yang lainnya.</p>
<blockquote><p><em>“Dulu itu, Tionghoa dengan pribumi hidup rukun dan harmonis. Kelenteng Tiao Kak Sie dan Kampung Pecinan itu bukti diterimanya Warga Tionghoa yang masuk ke Cirebon. Bahkan anak buah Laksamana Cheng Ho adalah seorang muslim Tionghoa, yang aktif melakukan syiar agama Islam di Cirebon.”</em></p></blockquote>
<p>Mbah Ciek pernah bercerita seperti itu kepadaku. Lelaki renta, perakanan Tionghoa yang hidup sendirian di salah satu sudut Kota Cirebon. Saya menyukai cerita-ceritanya perihal Warga Tionghoa. Mengenai keberatan warga Tionghoa dengan sebutan “Cina” serta tentang sekat-sekat yang ditinggalkan oleh politik <em>devide et impera </em>tersebut.</p>
<p><em>Devide et Impera,</em> diciptakan dengan tujuan agar tidak ada persatuan dari kedua etnis (Tionghoa – Jawa) yang diyakini bisa membahayakan kedudukan Belanda saat itu. Dari sinilah mulai diciptakan politik adu domba. Membagi strata sosial dengan menempatkan warga Tionghoa &amp; Arab lebih tinggi derajatnya daripada kaum pribumi. Memberikan tugas-tugas yang lebih ringan ke Tionghoa, sementara tugas yang relatif lebih berat diberikan ke warga pribumi.</p>
<p>Hal-hal semacam inilah yang kemudian menimbulkan kecemburuan sosial dan kebencian antara kedua belah pihak. Bahkan stigma negatif terhadap Warga Tionghoa juga muncul pada masa Pangeran Diponegoro (1825 – 1830) dimana wanita-wanita Tionghoa dianggap sebagai penyebab kekalahan Pasukan Diponegoro dan Sastradilaga (Tertulis dalam Serat Babad Diponegoro Maskumambang XXXIII).</p>
<p>Begitulah&#8230;</p>
<p>Tak heran, jika kemudian dia lebih memilih &#8220;hanya  menjadi sahabat&#8221; kepada wanita cina yang tanpa dia sadari telah mempesona hatinya itu.</p>
<p>Atau Monic, kawan saya yang peranakan Tionghoa. Dia lebih memilih sakit hati, meninggalkan lelaki Jawa yang dicintainya ketimbang harus dikucilkan dari keluarga besarnya.</p>
<p>Salah siapa?</p>
<p>Tak perlu dipertanyakan. Menghilangkan pengaruh politik pecah belah Belanda yang sudah tertanam berabad-abad lamanya memang tidak mudah. Ada yang dengan cepat berbaur kembali, ada yang masih perlu proses dalam menghilangkan pengaruh tersebut.</p>
<blockquote><p>“Cina itu, kalau kaya pasti dituduh kaki tangan dan penjilat pemerintah. Tapi kalau miskin, disukurin. Sukurin lo, Cina kok miskin.”</p></blockquote>
<p>Begitu suatu kali seorang kawan pernah becanda seperti itu. Tidak bisa dipungkiri, begitulah kenyataan yang terjadi di lapangan. Beberapa kasus besar di negeri ini, pelakunya adalah etnis Tionghoa. Jika pun hal tersebut bisa terjadi, menurut saya sebenarnya bukan karena faktor etnis atau kesukuan. Sistem pemerintahan yang buruk membuat semua bisa melakukan kejahatan seperti yang dilakukan oleh etnis tionghoa seperti (misalnya) Edy Tansil.</p>
<p>Di lingkungan pergaulan saya sendiri, saya banyak dibuat takjub dan terharu akan kecintaan kawan-kawan etnis Tionghoa terhadap Indonesia.</p>
<blockquote><p>“Aku tidak peduli dibilang Cina. Dimana pun berada, aku selalu bangga memperkenalkan diri sebagai <em>“I’m Indonesian”.</em> Meski dengan wajah oriental yang aku miliki, bisa saja aku mengaku sebagai<em> “Singaporean”</em> atau sebagai warga negara lain.”</p>
<p>“Kenapa tidak mengaku demikian?”</p>
<p>“Aku cinta Indonesia, wie. Meski perlakuannya kadang tak menyenangkan buat kami, tapi aku tetap orang Indonesia. Lahir dan dibesarkan di Indonesia. Bahkan aku tak punya siapapun di negeri nenek moyang kami. Semua keluargaku lahir dan tinggal di Indonesia. Kalaupun kemudian kami memutuskan untuk tinggal di luar negeri, itu hanya untuk alasan keamanan saja. Jika disuruh milih, sebenarnya aku lebih suka tinggal di Indonesia. Semua kenangan ada di sana.”</p></blockquote>
<p>Kawan yang lain lagi,</p>
<blockquote><p>“Ah, gue ga pernah peduli dengan panggilan Cina atau pun Tionghoa. Panggilan-panggilan tersebut tidak pernah berarti buat gue. Gue tetap seratus persen Indonesia. Gue cinta negara ini. Pengen hidup, beranak pinak, dan mati di sini. Maka dari itu, gue nggak pernah konsentrasi terhadap perbedaan kultur dan ras tersebut. Konsentrasi gue adalah bagaimana bikin Indonesia bangga punya warga negara beda seperti gue.”</p></blockquote>
<p>Dan kawan saya ini, melalui kegiatan positifnya telah membantu banyak warga-warga pribumi kelas bawah dalam meningkatkan Usaha Kecil Menengah mereka.</p>
<p>Jika sudah demikian, apa pentingnya sebuah perbedaan?</p>
<p>Bukankah perbedaan hanya akan berhenti sebatas kata-kata jika kita tak pernah menganggapnya ada? Kalaupun ada sebagian dari kita yang masih mengkotak-kotakkan diri atas dasar kesukuan, kemungkinan karena warisan devide et impera yang ditinggalkan oleh Belanda masih sangat kuat tertanam dalam dirinya, setelah berabad-abad lamanya itu&#8230;</p>
<p>Jalanan di Kota Cirebon masih terlihat lengang di pagi hari. Para pedagang makanan masih terlihat sibuk menata dagangan mereka. Saya terus berjalan, menyusuri trotoar, menghirup udara segar.  Udara yang sama, yang dihirup oleh Mbah Ciek, Monic, dan kawan-kawan etnis Tionghoa lainnya. Di kota ini, saya banyak belajar tentang arti perbedaan yang tak bermakna “beda”.</p>
<p>Dirgahayu ke 66 Indonesiaku.</p>
<p>Salam,</p>
<p>-wiwikwae-</p>
<p><em>*Catatan sejarah diambil dari berbagai macam sumber *</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wiwikwae.com/2011/08/menjadi-indonesia-yang-beda.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pulang, Bersama #XLnetRally</title>
		<link>http://www.wiwikwae.com/2011/08/pulang-bersama-xlnetrally.html</link>
		<comments>http://www.wiwikwae.com/2011/08/pulang-bersama-xlnetrally.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Aug 2011 02:31:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwikwae</dc:creator>
				<category><![CDATA[FEATURED]]></category>
		<category><![CDATA[GUDANG BERITA]]></category>
		<category><![CDATA[GUDANG JALAN-JALAN]]></category>
		<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wiwikwae.com/?p=1113</guid>
		<description><![CDATA[Namun seperti laju kereta api, secepat apapun ia, selalu ada masa dimana harus berhenti, dan kembali.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.wiwikwae.com/wp-content/uploads/2011/08/pulang.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1114" title="pulang" src="http://www.wiwikwae.com/wp-content/uploads/2011/08/pulang-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a></p>
<p>Pulang.</p>
<p>Itu kata yang selalu saya sebutkan saat mengunjungi Semarang, kota kelahiran yang saya tanggalkan status domisilinya sejak Tahun 1995.</p>
<p>Meski terkadang hanya bisa setahun sekali, saya selalu merasa gembira jika bisa pulang. Romantisme kenangan masa lalu selalu saja berputar, menari, dan meninggalkan senyum di wajah saya di setiap perjalanan pulang tersebut. Dengan alasan apapun, saya hampir tidak bisa menolak setiap ajakan pulang yang ditawarkan ke saya. Membayangkan bisa kembali menyusuri jalan-jalan kenangan masa kecil saja sudah membuat mata saya berbinar.  Apalagi dengan tambahanan ornamen ditemani banyak kawan yang menyenangkan, fasilitas menggiurkan, serta acara-acara yang membuat saya tak sabar menunggu saat itu tiba.</p>
<p>XL, saat menawari saya menjadi koordinator temen-temen Blogger pada acara Uji Kelayakan Jaringan yang diberi nama <em>#XlnetRally</em> dengan kota tujuan akhir adalah Pulang, tentu saja membuat saya tidak perlu berpikir dua kali untuk menerima ajakan tersebut. Kenapa harus Semarang? Menurut data statistik. lonjakan pemudik paling banyak terjadi di kota ini.</p>
<p>Girang?</p>
<p>Sudah pasti. Apalagi saat mengetahui armada yang akan mengantar kepulangan saya kali ini adalah KA. Argo Muria, dimana gerbong yang kami tumpangi adalah gerbong khusus. Gerbong yang biasanya dipakai oleh pejabat tinggi negeri ini. Gerbong yang sama pula sering disewa oleh para selebriti, kala ingin menikmati perjalanan darat menggunakan jalur KA.</p>
<p><a href="http://www.wiwikwae.com/wp-content/uploads/2011/08/gerbong-KA.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1115" title="gerbong KA" src="http://www.wiwikwae.com/wp-content/uploads/2011/08/gerbong-KA-300x272.jpg" alt="" width="300" height="272" /></a></p>
<p>Sepanjang perjalanan menuju Semarang, kami benar-benar dimanjakan oleh pihak XL. Mulai dari hiburan, makanan, dan tentu saja amunisi paling dibutuhkan oleh netizen macam kami ini, bandwith. Namanya saja uji kelayakan jaringan, maka kami pun memanfaatkan <em>wi fi</em> yang terpasang di kereta tersebut untuk kegiatan uji coba. Menguji, apakah dengan jaringan milik XL tersebut saya bisa unduh lagu semau saya. Dan mencoba, apakah jaringan XL tersebut mampu mengakomodir kegiatan unduh lagu, serta  sesekali kirim email, juga kegiatan online lainnya. <em>Well</em>, meski sempat <em>blankspot</em> di suatu daerah, namun menghasilkan 9 lagu favorit sepanjang uji kelayakan jaringan adalah prestasi. <img src='http://www.wiwikwae.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a href="http://www.wiwikwae.com/wp-content/uploads/2011/08/cek-jaringan.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1116" title="cek jaringan" src="http://www.wiwikwae.com/wp-content/uploads/2011/08/cek-jaringan-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a></p>
<p>Terlepas dari itu semua, prestasi lain yang sempat saya ukir di perjalanan pulang kali ini adalah, terpenuhinya keinginan saya menikmati makanan yang beberapa waktu belakangan kemarin sangat saya idam-idamkan, krupuk melarat. Meski rasanya sedikit mengalami perubahan, namun cukup untuk mengobati kerinduan saya. Krupuk Melarat  pun sudah berubah <img src='http://www.wiwikwae.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a href="http://www.wiwikwae.com/wp-content/uploads/2011/08/kerupuk-mlarat.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1118" title="kerupuk mlarat" src="http://www.wiwikwae.com/wp-content/uploads/2011/08/kerupuk-mlarat-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a></p>
<p>Prestasi yang lainnya lagi adalah, kemampuan saya menerangkan dengan baik beberapa lokasi di Semarang. Ya&#8230; kalaupun ada sedkit kesalahan, menurut saya sih wajar-wajar saja. Lebih dari 15 Tahun saya hampir tidak pernah menyusuri daerah tersebut, jadi kalo terjadi diorientasi arah, masih wajar lah&#8230;. <em>*menyibak rambut dg pelan*</em></p>
<p>Toko Oen, akhirnya saya mengunjunginya lagi, setelah kunjungan terakhir kali adalah saat kelulusan kelas 6 SD. Tidak banyak yang berubah pada tatanan toko legendaris itu. Poffertjes nya masih menggoda lidah ndeso saya. Tak heran, jika sepanjang jamuan yang diselenggarakan oleh pihak XL itu, menu yang satu ini tak henti-hentinya disajikan. Entah kesalahan pesan, entah karena memang teman-teman blogger begitu menyukai jajanan tradisional warga walondo ini. Hanya waiter dan buku pencatat pesanan menu yang tahu.</p>
<p><a href="http://www.wiwikwae.com/wp-content/uploads/2011/08/menu.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1119" title="menu" src="http://www.wiwikwae.com/wp-content/uploads/2011/08/menu-300x239.jpg" alt="" width="300" height="239" /></a></p>
<p>Waktu terus saja berjalan, dan keriaan masih terus berlanjut. Hingga tak terasa, saat yang paling tidak mengenakkan dari kegiatan rame-rame selama dua hari satu malam ini harus dilalui. Perpisahan. Saya jadi tahu, kenapa ibu saya selalu saja sendu saat usai lebaran,dimana anak-anaknya harus kembali pulang ke kota masing-masing.  Ah, mungkin saya yang terlalu melankolis. Mungkin juga karena acara XLnetRally kali ini benar-benar menggembirakan hingga tak hendak mengakhirinya.</p>
<p>Namun seperti laju kereta api, secepat apapun ia, selalu ada masa dimana harus berhenti, dan kembali.</p>
<p>Semarang masih saja panas. Masih pula ada genangan-genangan air di beberapa daerah. Namun selalu mampu membuat saya ingin kembali pulang.</p>
<p>salam,</p>
<p>-wiwikwae-</p>
<p>Postingan serupa yang lebih menarik bisa dibaca di :</p>
<p>1. <a href="http://priyadi.net/archives/2011/07/27/xlnetrally-2011/#comments">Priyadi</a></p>
<p>2. <a href="http://daengbattala.com">Amriltg</a></p>
<p>3.<a href="http://blog.imanbrotoseno.com/?p=1450#more-1450"> Iman Brotoseno</a></p>
<p>4.<a href="http://blanthikayu.wordpress.com/2011/07/28/weekend-asyik-xlnetrally-2011/"> Eny Firsa</a></p>
<p>5. <a href="http://www.devieriana.com/2011/07/xlnetrally-sinyal-asyik-nyambung-terus-1/comment-page-1/#comment-12179">Devieriana</a></p>
<p>6. <a href="http://media-ide.bajingloncat.com">Media-ide</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wiwikwae.com/2011/08/pulang-bersama-xlnetrally.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>#HUJAN</title>
		<link>http://www.wiwikwae.com/2011/07/hujan.html</link>
		<comments>http://www.wiwikwae.com/2011/07/hujan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Jul 2011 10:52:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwikwae</dc:creator>
				<category><![CDATA[FEATURED]]></category>
		<category><![CDATA[GUDANG POJOK]]></category>
		<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wiwikwae.com/?p=1108</guid>
		<description><![CDATA[Meski aku mampu jatuh &#038; mengalir sendiri, namun aku tetap butuh kamu utk membawa gumpalan air ini ke suatu tempat yg tepat buatku jatuh.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.wiwikwae.com/wp-content/uploads/2011/07/hujan.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1109" title="hujan" src="http://www.wiwikwae.com/wp-content/uploads/2011/07/hujan-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a></p>
<p>Bagian mana dari isyaratku yang tak sanggup engkau jangkau? aku bahkan membedakan tiap suara jatuhku, ke tanah, atap, dan selokan.</p>
<p>Meski aku mampu jatuh &amp; mengalir sendiri, namun aku tetap butuh kamu utk membawa gumpalan air ini ke suatu tempat yg tepat buatku jatuh.</p>
<p>Bau tanah basah, cium saja. tak perlu dicari maknanya. Karena kelak, makna itu pula yang akan membuat semuanya jadi tak bermakna.</p>
<p>Aku sdh terlanjur jatuh. Tak perlu lagi ditanyakan alasannya. Cukup nikmati saja tiap rintiknya, atau pergi &amp; tutup pintu serta jendela itu.</p>
<p>Hujan, kepada yang merasakan rintiknya&#8230;</p>
<p>Salam,</p>
<p>-wiwikwae-</p>
<h6><em>*gambar diambil dari <a href="http://cicisilent.blogspot.com/2011/06/episode-hujan.html">cicisilent</a></em></h6>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wiwikwae.com/2011/07/hujan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pergi</title>
		<link>http://www.wiwikwae.com/2011/06/pergi.html</link>
		<comments>http://www.wiwikwae.com/2011/06/pergi.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jun 2011 16:00:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwikwae</dc:creator>
				<category><![CDATA[FEATURED]]></category>
		<category><![CDATA[GUDANG POJOK]]></category>
		<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wiwikwae.com/?p=1093</guid>
		<description><![CDATA[Cinta,

Aku bahkan tak pernah sekalipun mengatakan satu hal ini padamu. Tapi, segala pengorbanan, kesetiaan, dan pengertian yang aku berikan padamu cukup membuatmu mengerti, bahwa dalam hal ini, belum ada yg pernah mencintaimu sebaik aku melakukannya padamu.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.wiwikwae.com/wp-content/uploads/2011/06/pergi1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1097" title="pergi1" src="http://www.wiwikwae.com/wp-content/uploads/2011/06/pergi1.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a></p>
<p>Sayang,</p>
<p>Pernahkah aku memanggilmu dengan sebutan demikian? Meski jawabannya tidak, tapi aku tahu, bahwa kamu merasakan sayangku padamu lebih dari sebatas sebutan yang bahkan tak pernah aku gunakan.</p>
<p>Cinta,</p>
<p>Aku bahkan tak pernah sekalipun mengatakan satu hal ini padamu. Tapi, segala pengorbanan, kesetiaan, dan pengertian yang aku berikan padamu cukup membuatmu mengerti, bahwa dalam hal ini, belum ada yg pernah mencintaimu sebaik aku melakukannya padamu.</p>
<p>Kasih,</p>
<p>Tak pandai aku menggunakan kata ini pada setiap teks maupun percakapanku padamu. Namun aku yakin, kamu cukup paham. Bahwa kamulah alasan aku mau menempuh jarak berkilo jauhnya, hanya untuk melukis tawa di suram harimu.</p>
<p>Janji,</p>
<p>Jika pun ada janjimu yang belum tertepati, aku sudah menganggapnya lunas. Bersamamu, adalah harga yg tak pernah bisa terbayarkan oleh apapun juga, selain kebahagiaan.</p>
<p>Pergi,</p>
<p>Jika kemudian, setelah 5 tahun perjalanan aku memutuskan untuk memilih ini, aku pun yakin kamu tahu. Bahwa inilah kado terbaikku untuk melengkapi sempurnanya hidupmu.</p>
<p>Malam semakin senyap. Yang tertinggal cuma isak yang bahkan aku sendiri tak bisa mendengarnya. Mengertilah&#8230;</p>
<p>_Mid Semester, 2011</p>
<h6>*gambar diambil dari <a href="http://akumampu.wordpress.com">akumampu</a></h6>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wiwikwae.com/2011/06/pergi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

