<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>GudAnGku!</title>
	<atom:link href="http://www.wiwikwae.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.wiwikwae.com</link>
	<description>dimana aku bisa menyimpan sesuatu ...</description>
	<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 17:13:51 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>TEMBANG AIR TANAH</title>
		<link>http://www.wiwikwae.com/2010/03/tembang-air-tanah.html</link>
		<comments>http://www.wiwikwae.com/2010/03/tembang-air-tanah.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 17:02:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwikwae</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[FEATURED]]></category>

		<category><![CDATA[GUDANG BERITA]]></category>

		<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wiwikwae.com/?p=388</guid>
		<description><![CDATA[Judul diatas sengaja saya balik, supaya tidak terlihat sama persis dengan judul cerita silat Bang Arswendo yang berjudul Tembang Tanah Air. Tidak ada maksud apa-apa selain hanya keisengan belaka.

Sejujurnya, saya ingin sekali menggunakan judul Tembang Air Tanah tersebut, karena saya pikir judul tersebut sangat mewakili perayaan hari ini, Hari Musik Nasional. Namun supaya terlihat sedikit kreatip, maka judul tersebut saya modifikasi eh, lebih tepatnya cuma membalik susunan katanya sih... :D]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-390" title="hari-musik1" src="http://www.wiwikwae.com/wp-content/uploads/2010/03/hari-musik1-253x300.jpg" alt="hari-musik1" width="253" height="300" />Judul diatas sengaja saya balik, supaya tidak terlihat sama persis dengan judul cerita silat Bang Arswendo yang berjudul <strong>Tembang Tanah Air</strong>. Tidak ada maksud apa-apa selain hanya keisengan belaka.</p>
<p>Sejujurnya, saya ingin sekali menggunakan judul Tembang Air Tanah, karena saya pikir judul tersebut sangat mewakili perayaan hari ini, <strong>Hari Musik Nasional</strong>. Namun supaya terlihat sedikit kreatip, maka judul tersebut saya modifikasi eh, lebih tepatnya cuma membalik susunan katanya sih&#8230; <img src='http://www.wiwikwae.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> Ah, lupakan tentang kreatifitas abal-abal tersebut.</p>
<p>Kembali ke musik sahaja.</p>
<p>Aristoteles pernah berkata bahwa musik mempunyai kemampuan mendamaikan hati yang gundah, mempunyai terapi rekreatif serta menumbuhkan jiwa patriotisme. Dan seratus persen saya setuju dengan pernyataan filsuf Yunani tersebut.</p>
<p>Suatu kali dalam perjalanan luar kota bersama sang kekasih hati, suasana agak sedikit tak mengenakkan hanya karena ada rasa cemburu yang terselip. Saya yang biasanya penuh dengan keceriaan mendadak jadi pendiam, berbicara pun hanya seperlunya saja. Dan Sepertinya sang kekasih membaca gelagat &#8220;ngambek&#8221; tersebut. Dengan hanya memutar lagu yang dinyanyikan Indra Lesmana + Nania berjudul <strong>Sedalam Cintamu</strong> beberapa kali, dan sesekali diselingi senandungnya tepat dilirik yang ini <em>&#8220;&#8230;. sedalam-dalam cintamu kuselami, warna-warna terindah yang ada di bumi&#8230;.&#8221;</em> Dank! Ngambek saya pun raib entah kemana. Tak lama kemudian, suasa sendu merayu diselilingi tawa malu-malu pun menghiasi perjalanan panjang kami menyusuri Jalur Pantura tersebut.</p>
<p>Bandanaira, Grup musik yang sering menyanyikan lagu-lagu bernuansa patriotisme dengan arasemen yang disesuaikan masa sekarang, mampu menggiring para pendengarnya ke romansa masa lalu. Bahkan beberapa lagunya yang bertema perjuangan mampu menyalakan semangat nasionalisme dalam dada, tak jarang pula bikin merinding, karena terbayang masa-masa perjuangan bangsa ini kala melawan penjajah. Memang sih, saya belum pernah mengalami masa perjuangan tersebut. Namun dari lirik yang didendangkan imajinasi saya mulai bermain, menyesuaikan dg lirik dan lagu yang terdengar.</p>
<p>Itulah salah dua dari kekuatan bunyi-bunyian yang disebut dengan musik tersebut. Oleh karena saya bukan orang yang ahli dalam hal ini, maka saya membatasi bahasannya berdasarkan apa yang saya rasakan saja.</p>
<p>Eh, ngomong-ngomong ada yang inget tentang Papa T. Bob, gak? Yep! Pencipta lagu anak-anak di era tahun 90 an. Banyak sekali lagu yang dinyanyikan dengan kenes oleh anak-anak Indonesia pada masa itu adalah hasil ciptaannya. Lagu sederhana yang menceritakan tentang kehidupan ceria tanpa dosa khas anak-anak seperti, &#8220;Diobok-obok&#8221; dan &#8220;Abang Tukang Bakso&#8221;. Sesederhana lagu anak-anak sepanjang masa seperti <strong>Balonku Ada 5</strong>, <strong>Topi Saya Bundar</strong>, <strong>Bangun Tidur</strong>, <strong>Amri Membolos</strong>, <strong>Aku seorang Kapiten</strong>, dll.</p>
<p>Mendadak jadi rindu mendengar adik-adik kecil kita mendendangkan lagu-lagu tersebut, bukan lagu-lagu percintaan yang sebenarnya tak layak dinyanyikan oleh anak-anak seusia mereka.</p>
<p>Semoga di Hari Musik Nasional kali ini, musik dalam negeri semakin berkembang dan semakin beragam. Jika tidak ada pencipta lagu yang tertarik untuk menciptakan lagu anak-anak, jangan paksakan mereka untuk menyanyikan lagu yang bukan untuk konsumsi mereka. Aransemen ulang saja lagu-lagu yang sudah ada. Selain dapat membuka lahan bisnis baru, juga akan menambah khasanah musik di negeri ini.</p>
<p>Berikut daftar lagu anak-anak yang dapat di aransemen ulang :</p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Aku_Seorang_Kapiten">1 Aku Seorang Kapiten</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Amrin_Membolos">2 Amrin Membolos</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Balonku">3 Balonku</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Bangun_Tidur">4 Bangun Tidur</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Bermain">5 Bermain</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Bintang_Kecil">6 Bintang Kecil</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Bintang_Kejora">7 Bintang Kejora</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Bunda_Piara">8 Bunda Piara</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Bunga_Hiasan">9 Bunga Hiasan</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Bungaku">10 Bungaku</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Burung_Kakaktua">11 Burung Kakaktua</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Burung_Unta">12 Burung Unta</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Cicak-cicak_di_Dinding">13 Cicak-cicak di Dinding</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Dua_Mata_Saya">14 Dua Mata Saya</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Gelang_Sipaku_Gelang">15 Gelang Sipaku Gelang</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Ibu_Kita_Kartini">16 Ibu Kita Kartini</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Ibu_Pertiwi">17 Ibu Pertiwi</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Kapal_Api">18 Kapal Api</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Kasih_Ibu">19 Kasih Ibu</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Kebunku">20 Kebunku</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Keranjang_Sampah">21 Keranjang Sampah</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Ke_Pasar_Ikan">22 Ke Pasar Ikan</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Kring_Kring...">23 Kring Kring&#8230;</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Kunang-Kunang">24 Kunang-Kunang</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Layang-layang">25 Layang-layang</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Mobilku">26 Mobilku</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Naik_Delman">27 Naik Delman</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Naik_Gunung">28 Naik Gunung</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Naik_Kereta_Api">29 Naik Kereta Api</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Nina_Bobo">30 Nina Bobo</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Pelangi">31 Pelangi</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Pergi_Belajar">32 Pergi Belajar</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Satu_satu_aku_sayang_ibu">33 Satu satu aku sayang ibu</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Selamat_Ulang_Tahun">34 Selamat Ulang Tahun</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Si_Kancil_Nakal">35 Si Kancil Nakal</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Soleram">36 Soleram</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Taman_Kanak-Kanak">37 Taman Kanak-Kanak</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Tari_Topeng">38 Tari Topeng</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Topi_Saya_Bundar">39 Topi Saya Bundar</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Tukang_Kayu">40 Tukang Kayu</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Tukang_Pos">41 Tukang Pos</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Awan">42 Awan</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Anjing_kecil">43 Anjing kecil</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Bangun_Pagi">44 Bangun Pagi</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Kupu-Kupu">45 Kupu-Kupu</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#NAIK_BECAK">46 NAIK BECAK</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#Burung_Kutilang">47 Burung Kutilang</a></p>
<p><a href="http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia#NENEK_MOYANGKU">48 NENEK MOYANGKU</a></p>
<p>49. DLL</p>
<p>50. Dst</p>
<p><a href="http://www.budpar.go.id/page.php?ic=512&amp;id=758">SELAMAT HARI MUSIK INDONESIA</a><a href="http://www.budpar.go.id/page.php?ic=512&amp;id=758">!</a></p>
<p>salam aja,</p>
<p>-wiwikwae-</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wiwikwae.com/2010/03/tembang-air-tanah.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>SUNSET BEACH</title>
		<link>http://www.wiwikwae.com/2010/02/sunset-beach.html</link>
		<comments>http://www.wiwikwae.com/2010/02/sunset-beach.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Feb 2010 17:38:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwikwae</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[FEATURED]]></category>

		<category><![CDATA[GUDANG JALAN-JALAN]]></category>

		<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wiwikwae.com/?p=380</guid>
		<description><![CDATA[............

White sand,

your smile,

and This Paradise called Sunset Beach..]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-381" title="sunset-beach" src="http://www.wiwikwae.com/wp-content/uploads/2010/02/sunset-beach-300x225.jpg" alt="sunset-beach" width="300" height="225" /></p>
<p>I am not telling lies, this place is beautiful.</p>
<p>Enjoy the wind blows that parted your hair, gently</p>
<p>Patikoli grilled fish,</p>
<p>Sunshine,</p>
<p>White sand,</p>
<p>and your smile, of course</p>
<p>This Paradise called Sunset Beach..</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>Sunset Beach, located in Jepara, one of small town in Central Java. You can go by car through Semarang City (Capital of Central Java). It&#8217;s about 2-3 hours overland from Semarang. (Private photo collection, red.)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wiwikwae.com/2010/02/sunset-beach.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>KETIKA HUJAN BERHENTI</title>
		<link>http://www.wiwikwae.com/2010/02/ketika-hujan-berhenti.html</link>
		<comments>http://www.wiwikwae.com/2010/02/ketika-hujan-berhenti.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Feb 2010 16:54:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwikwae</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[FEATURED]]></category>

		<category><![CDATA[GUDANG POJOK]]></category>

		<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wiwikwae.com/?p=372</guid>
		<description><![CDATA[Yang tersisa kemudian hanya titik-titik air,

bau tanah basah,

genangan,

......

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><!-- 	 	 --><img class="size-medium wp-image-374 aligncenter" title="umbrella-dancingintherain" src="http://www.wiwikwae.com/wp-content/uploads/2010/02/umbrella-dancingintherain-300x300.gif" alt="umbrella-dancingintherain" width="300" height="300" /></p>
<p style="text-align: left;">Ketika hujan berhenti,</p>
<p>Yang tersisa kemudian hanya titik-titik air,</p>
<p>bau tanah basah,</p>
<p>genangan,</p>
<p>tanah tak keras lagi untuk dipijak,</p>
<p>hawa dingin yang menusuk,</p>
<p>Lengang, diam,</p>
<p>Dan kepulanganku kembali ke rumah &#8230;</p>
<p>_Februari, dengan cinta dan kejujuran</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">
<p style="margin-bottom: 0cm;">
<p style="margin-bottom: 0cm;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wiwikwae.com/2010/02/ketika-hujan-berhenti.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>LEGAL ALIEN</title>
		<link>http://www.wiwikwae.com/2010/01/legal-alien.html</link>
		<comments>http://www.wiwikwae.com/2010/01/legal-alien.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 05:37:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwikwae</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[FEATURED]]></category>

		<category><![CDATA[GUDANG INSPIRASI]]></category>

		<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wiwikwae.com/?p=361</guid>
		<description><![CDATA[Kaum minoritas, yang kala banyak orang berbondong-bondong menyukai sesuatu karena sedang menjadi tren, kami tak peduli. Saat banyak orang mengikuti sesuatu karena gaya hidup, kami tetap tak tergoda untuk menjadi bagian darinya. Kami adalah suara hati kami, tak peduli apakah itu tampak aneh atau tidak bagi yang lain. 

Apakah kalian termasuk bagian dari golongan orang seperti kami? :)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-364" title="legal-alien" src="http://www.wiwikwae.com/wp-content/uploads/2010/01/legal-alien-300x291.jpg" alt="legal-alien" width="300" height="291" />Apa ya, sebutan yang terdengar keren untuk orang-orang seperti saya? Kaum minoritas, yang kala banyak orang berbondong-bondong menyukai sesuatu karena sedang menjadi tren, kami tak peduli. Saat banyak orang mengikuti sesuatu karena gaya hidup, kami tetap tak tergoda untuk menjadi bagian darinya. Kami adalah suara hati kami, tak peduli apakah itu tampak aneh atau tidak bagi yang lain.</p>
<p><strong>Aha! Legal Alien! </strong></p>
<p>Sepertinya julukan itu tampak cocok dan keren.</p>
<p>Kenapa legal? Ya karena kami punya kartu identitas yang diakui secara sah oleh hukum. Kok alien? Uhm.. mungkin karena orang-orang seperti kami bukanlah bagian dari aturan itu. Kami, untuk sebagian orang mungkin tampak aneh karena tak melakukan apa yang “seharusnya” dilakukan oleh sebagian orang itu.</p>
<p>Wine, kaum sosialis pasti tergoda untuk mencicipinya, karena itu bagian dari gaya hidup. Nggak pernah minum wine, berarti nggak keren, dan wine adalah suatu keharusan bagi sebagian besar kaum sosialis itu. Tapi tidak bagi kami, lebih tepatnya saya. <img src='http://www.wiwikwae.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><em>“Ndeso luh!”<br />
“Woo… cah kamso!”<br />
“Dasar, masih TK.”<br />
“Ini wine asli dari Yerusalem wie, masak kamu tak tergoda mencicipinya?Ah, dasar kamu.” </em></p>
<p>Kalimat seperti itu sering terdengar kala dalam sebuah perjamuan atau pergaulan, saya lebih memilih minuman seperti <em>orange juice</em> dibanding minuman yang “seharusnya” itu. Namun saya tak peduli, <em>that’s me already dear</em>&#8230;</p>
<p>Saya tak akan memilih sesuatu hanya supaya tampak sama dengan mereka, namun mengabaikan kata hati sendiri. Tidak ada yang salah dengan wine, hanya saja kata hati saya belum berkompromi dengan itu, at least untuk saat ini (hampir 13 tahun dari saat awal mengenalnya).</p>
<p>Kata orang, <em>dugemers</em> wanita pasti akan tersentuh dengan barang-barang seperti ini : rokok, minuman beralkohol, dan drugs. Bagi sebagian besar <em>dugemers</em> yang saya kenal, kata orang itu benar adanya. Tapi hal itu tak berlaku buat saya. Sewaktu kuliah di Jogja dulu, hampir seminggu dua kali saya selalu menghabiskan malam-malam tersebut dengan berdugem ria. Setiap rabu malam dan malam minggu, waktu keramat buat saya dan teman-teman untuk menancapkan eksistensi diri sebagai anak muda yang keren dan gaul. Saat semua teman wanita, tak peduli yang sudah dugemer sejati maupun yang masih “manis”, memesan slimming bikini, Singapore sling, tequila, red wine, Long Island dan minuman beralkohol lainnya, saya tetap memilih orange juice. Yah, <em>much better than a coke</em>. <img src='http://www.wiwikwae.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Kalaupun pernah sekali saya salah sedot Long Island, karena waktu itu saya pikir es teh. Ya.. ya… saya pancen ndeso. So what?</p>
<p>Mau di<em>-blacklist</em> dari daftar teman bergaul karena dianggap tak mempunyai kesukaan yang sama dengan kawan yang lain? Ya monggo. Saya tidak akan melakukan apapun yang tidak ingin saya lakukan, apalagi untuk hal yang menurut saya negatif. Tidak ambil pusing dengan resiko apapun yang akan mengikutinya. Bersyukurnya sih, nggak ada kawan yang meninggalkan karena alasan kendesoan saya tersebut. Bahkan hingga kini kawan saya berjibun, dan hampir di setiap kota yang pernah saya kunjungi, paling tidak ada satu kawan baik yang tinggal disana.</p>
<p>Kalau ingin selamat menjadi karyawan teladan di mata bos yang diktator, maka harus mengiyakan apapun yang beliau bilang, tak peduli apakah itu benar atau salah. Dan sebagian besar rekan kerja saya melakukan itu, tapi tetap aturan itu nggak berlaku buat saya.</p>
<p><em>“Sepertinya bagus tuh, kalau lukisannya ditaruh di tembok sebelah sana yang masih kosong.” Kata si boss<br />
“Wah, bener boss. Bagus.”<br />
“Iya, keren… keren.”<br />
“Tampak serasi dengan meja dan tanaman yang ada disitu.”<br />
“Iya, bagus.”</em></p>
<p>Dan banyak lagi kalimat dukungan lainnya. Seperti biasa, jika tidak sesuai dengan apa yang ada dipikiran, saya memilih untuk diam. Kecuali jika ditanya.</p>
<p><em>“Menurutmu, Wik?”<br />
“Tidak cocok bos. Nggak proporsional antara ukuran lukisan dan lebar tembok, sehingga terlihat penuh.”</em></p>
<p>Mau dipecat? Please do. Saya hanya ingin jujur, menyampaikan apa yang ada dihati dan pikiran saya. Beruntungnya tidak, saya kemudian malah jadi orang kepercayaan si bos karena dianggap paling jujur diantara yang lain.</p>
<p><em>“Ah, kamu kan yang sering miskol aku pakai private number. Bilang aja kalau kangen. Gengsi banget sih buat ngakuin itu?”</em></p>
<p>Suatu kali mantan saya pernah menuduh demikian. Buat sebagian orang yang mempunyai gengsi tinggi, mungkin pernah melakukan hal tersebut. <em>But, once again I said, I’m the exception</em>.</p>
<p>Pertama, saya nggak suka melakukan kegiatan pengecut seperti memiskol dan dimiskol. <em>I hate it much!</em> Kedua, provider kartu telepon saya tidak mengakomodir kegiatan tersebut. Dan meskipun dia punya beribu alasan yang masuk akal untuk menuduh saya melakukan hal tersebut, kelak semua itu terbukti, dan saya tetap menyukai nyengir kudanya itu. I love you, mas…. *curcol</p>
<p>Intinya, kami eh, saya adalah apa yang ada dipikiran saya sendiri, bukan apa yang ada dipikiran orang lain. <strong><em>I’m not passenger but a driver in my life.</em></strong></p>
<p><em>Hoo.. woo.. I’m an alien… I’m a legal alien.. I’m an English man in New York… be yourself no matter what they say…du..du.. </em></p>
<p>The sweet one legal alien,</p>
<p><a href="http://wiwikwae.com"><strong>-wiwikwae-</strong></a></p>
<p>Ps : Terinspirasi oleh lagu English Man in New York yg dibawakan oleh Adhitya Sofyan. Your voice is pretty cool, man!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wiwikwae.com/2010/01/legal-alien.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>PEKERJA 2.0</title>
		<link>http://www.wiwikwae.com/2009/12/pekerja-20.html</link>
		<comments>http://www.wiwikwae.com/2009/12/pekerja-20.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Dec 2009 15:03:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwikwae</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[FEATURED]]></category>

		<category><![CDATA[GUDANG BERITA]]></category>

		<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wiwikwae.com/?p=353</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Sekarang kerja dimana?&#8221;
Beberapa waktu yang lalu kalau mendengar pertanyaan seperti itu, saya pasti berpikir agak lama. Mencoba mencari kata yang pas supaya tak perlu menjelaskan panjang lebar mengenai apa yang menjadi pekerjaan saya tersebut.

Social media organizer? Apa itu?
Penanggung jawab content web? Maksudnya?
Setelahnya akan terjadi pembicaraan yang sangat menarik dan puaanjaang tentang dua hal yang saya sebutkan diatas.
Namun seiring berjalannya waktu, sudah banyak orang yang mulai tidak asing dengan istilah social media dan manfaatnya. Banyak negara memanfaatkan social media untuk urusan yang bermacam-macam, mulai dari kampanye politik, penciptaan cult brand sebuah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><img class="alignleft size-full wp-image-357" title="makan-di-depan-komputer" src="http://www.wiwikwae.com/wp-content/uploads/2009/12/makan-di-depan-komputer.jpg" alt="makan-di-depan-komputer" width="250" height="250" />&#8220;Sekarang kerja dimana?&#8221;</em></p>
<p>Beberapa waktu yang lalu kalau mendengar pertanyaan seperti itu, saya pasti berpikir agak lama. Mencoba mencari kata yang pas supaya tak perlu menjelaskan panjang lebar mengenai apa yang menjadi pekerjaan saya tersebut.<br />
<em></em></p>
<p><em>Social media organizer? Apa itu?<br />
Penanggung jawab content web? Maksudnya?</em></p>
<p>Setelahnya akan terjadi pembicaraan yang sangat menarik dan puaanjaang tentang dua hal yang saya sebutkan diatas.<br />
Namun seiring berjalannya waktu, sudah banyak orang yang mulai tidak asing dengan istilah social media dan manfaatnya. Banyak negara memanfaatkan social media untuk urusan yang bermacam-macam, mulai dari kampanye politik, penciptaan cult brand sebuah produk, atau sekedar mempererat hubungan pertemanan. Kekuatan social media dalam penyebaran informasi serta terbukanya sekat-sekat hambatan dalam komunikasi online telah membuka peluang kerja sendiri bagi beberapa orang. Social media center mulai bermunculan untuk mengakomodir kebutuhan beberapa perusahaan dalam pengelolaan social media milik mereka.</p>
<p>Stop!</p>
<p>Kali ini saya tidak akan mengupas mengenai social media panjang lebar. Tentang hal ini, pengunjung <a href="http://wiwikwae.com"><strong>GudAnGku!</strong></a> dapat mencari sendiri artikelnya yang tersebar di setiap pelosok mesin pencari seperti Google dan Yahoo.<br />
Saya hanya akan menceritakan sedikit tentang apa yang dimaksud dengan Pekerja 2.0.<br />
Judul diatas hanyalah karangan saya sendiri. Untuk memudahkan pengkategorian jenis pekerjaan seperti yang dilalukan oleh orang-orang seperti saya.</p>
<p>Kenapa dinamakan Pekerja 2.0?</p>
<p>Karena saat kita bicara tentang 2.0 pasti tidak terlepas dengan dunia internet. Dan pekerjaan saya serta beberapa orang lainnya, murni berhubungan dengan internet. Jika tak ada internet, maka tak ada yang dapat kami kerjakan. Kami tak butuh kantor, tak perlu dasi dan pakaian rapi, yang kami butuhkan hanya koneksi internet serta perangkat pendukung seperti PC atau laptop. Namun demikian, pekerjaan kami tak bisa dipandang sebelah mata. Justru dengan tak adanya kantor, maka tak berlaku pula jam kantor buat pekerja semacam saya, alias waktu kerjanya bisa lebih luaamaa dibanding pekerja kantoran lainnya.</p>
<p>Pengalaman seorang kawan pekerja 2.0 yang mengerjakan suatu project dari bosnya di Australia, bangun tidur, jika pekerja kantoran bisa ngopi2 sembari baca Koran, atau nonton tivi, maka orang-orang seperti kami ketika bangun tidur hal yang pertama kali dilakukan adalah “bekerja”. Menyalakan computer, surfing berita, dan mulai melakukan aktifitas bekerja disela-sela kegiatan ngopinya tersebut.</p>
<p>What a beautiful morning!</p>
<p>Namun demikian kami melakukannya dengan riang hati. Tak jarang dari kami bahkan menghabiskan waktunya lebih dari 18 jam hanya untuk ngadepin computer dan bekerja. Jenis pekerjaan yang dilakukan pun bermacam-macam. Mulai dari mengelola social media sebuah perusahaan, <em>mysterious shopper, and anything but online enable</em>.</p>
<p>Gaji, honor, atau apapun itu namanya? Oh, tentu saja menyenangkan. Apalagi kalau bisa dapat pekerjaan lebih dari 2 project sekaligus. Sekali online, bisa bekerja untuk beberapa sumber pemasukan. Hal inilah yang membedakan dengan pekerja kantoran, yang saat ingin mencari tambahan pemasukan harus nunggu waktu diluar jam kantor tersebut.</p>
<p>Tapi tak dipungkiri, dapat menyebutkan sebuah perusahaan sebagai jawaban atas pertanyaan : kerja dimana? Merupakan kebanggaan tersendiri. Dan tentunya tak perlu menunggu waktu lama, berpikir, guna mencari jawaban yang simple atas pertanyaan yang diajukan.<br />
Bagi saya pribadi, saya selalu bangga dengan apa yang saya lakukan. Terlebih jika pekerjaan saya itu didukung oleh tim yang hebat dan menyenangkan.</p>
<p>Wuiiih… tak terkira bangga dan bahagianya.<br />
[… bersambung, tentang jenis2 pekerjaan dan kesenangan sebagai pekerja 2.0]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wiwikwae.com/2009/12/pekerja-20.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>TA’ARUF</title>
		<link>http://www.wiwikwae.com/2009/12/ta%e2%80%99aruf.html</link>
		<comments>http://www.wiwikwae.com/2009/12/ta%e2%80%99aruf.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 15:27:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwikwae</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[FEATURED]]></category>

		<category><![CDATA[GUDANG BERITA]]></category>

		<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wiwikwae.com/?p=348</guid>
		<description><![CDATA[Ruangan itu hanya disekat dengan pembatas seadanya. Kain panjang bak gorden memisahkan mereka. Si akhwat nan cantik dan lembut di sisi satunya, dan sang ikhwan yang bersahaja di sisi yang lain.
Ta’aruf pertama
Ikhwan : Assalamualaikum…
Akhwat : Waalaikum salam…
Ikhwan : Boleh tahu nama lengkapnya?
Akhwat :  Saya Nuruliyah Hemawati
Ikhwan :  Saya Abidin Zaelani, biasa dipanggil Abid.
Akhwat : Panggil saya, Nurul saja…
Ikhwan : Usia Nurul berapa ya? Kalau saya 25 Tahun, bekerja sebagai guru SMP Negeri.
Akhwat : Saya 22 Tahun, bekerja sebagai salah satu staff di TK.
Ikhwan : Boleh tahu kriteria suami ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-349" title="nikab-n-jilbab" src="http://www.wiwikwae.com/wp-content/uploads/2009/12/nikab-n-jilbab-300x300.jpg" alt="nikab-n-jilbab" width="300" height="300" />Ruangan itu hanya disekat dengan pembatas seadanya. Kain panjang bak gorden memisahkan mereka. Si akhwat nan cantik dan lembut di sisi satunya, dan sang ikhwan yang bersahaja di sisi yang lain.<br />
<strong>Ta’aruf pertama</strong><br />
Ikhwan : Assalamualaikum…<br />
Akhwat : Waalaikum salam…<br />
Ikhwan : Boleh tahu nama lengkapnya?<br />
Akhwat :  Saya Nuruliyah Hemawati<br />
Ikhwan :  Saya Abidin Zaelani, biasa dipanggil Abid.<br />
Akhwat : Panggil saya, Nurul saja…<br />
Ikhwan : Usia Nurul berapa ya? Kalau saya 25 Tahun, bekerja sebagai guru SMP Negeri.<br />
Akhwat : Saya 22 Tahun, bekerja sebagai salah satu staff di TK.<br />
Ikhwan : Boleh tahu kriteria suami yang diinginkan?<br />
…..<br />
Dan pembicaraan pun berlanjut seputar masalah tersebut, saling bergantian menanyakan dan mendengarkan alasan masing-masing.<br />
Sang perantara : Ok. Sepertinya sudah tidak ada lagi yang ingin ditanyakan. Kalau begitu, acara disudahi sampai disini. Silahkan melaksanakan sholat istiqarah untuk meminta petunjuk.<br />
Acarapun selesai. Ikhwan pulang melalui pintu yang berbeda dengan si Akhwat.</p>
<p><strong>Ta’aruf kedua</strong><br />
Setelah melaksanakan sholat istiqarah, sepertinya kedua belah pihak mendapatkan kemantapan untuk melanjutkan pada tahap yang selanjutnya, yaitu <em>Nadhor</em>.<br />
Tabir pembatas ruangan antara mereka berdua akan disingkap. Untuk memberi waktu kepada kedua belah pihak melihat wajah masing-masing.<br />
Detik-detik yang menegangkan…<br />
Tabir pun dibuka secara perlahan. Ikhwan dan Akhwat saling bertatapan sesaat, sementara sang perantara menghitung sampai dengan hitungan ke 5, dengan jarak hitungan sekitar satu detik. Dan tabirpun ditutup kembali.<br />
Terlalu cepat? Tentu saja tidak… karena jika terlalu lama, dikhawatirkan pandangan yang kesekian adalah nafsu.<br />
<strong> Ta’aruf ketiga</strong><br />
Sang Ikhwan berkunjung ke rumah pihak perempuan untuk berkenalan dengan keluarganya. Dan sang Akhwat hanya bisa mendengarkan pembicaraan sang Ikhwan dari ruangan lain. Mendengarkan setiap pertanyaan orang tuannya yang dijawab dengan penuh sopan oleh sang Ikhwan.<br />
<strong> Ta’aruf ke empat</strong><br />
<em> Khitbah</em>. Atau lamaran. Sang Ikhwan sekeluarga datang ke rumah Si Akhwat dengan membawa buah tangan sepantasnya seorang laki-laki melamar perempuan.<br />
Dan tanggal pernikahanpun telah ditentukan.<br />
Mereka berdua tinggal menunggu acara <em>walimahan</em> yang akan  menandakan sahnya hubungan mereka berdua sebagai sepasang suami-istri.<br />
Semua proses tersebut hanya ditempuh dalam waktu yang tidak lebih dari dua bulan, dimana dalam setiap jeda selalu diselipi dengan sholat istiqarah untuk memantapkan langkah menuju ke jenjang selanjutnya.<br />
Tak ada keraguan sedkitpun tergambar dalam wajah masing-masing dari mereka. Memutuskan menikah untuk menyempurnakan ibadah dengan orang yang hanya dikenal dalam tempo sesaat, dijalani dengan penuh keiklasan dan keyakinan tentang sebuah niat baik yang akan berakhir dengan baik pula.<br />
Perjodohan yang indah…<br />
Teman : Kamu mau juga Ta’aruf? Kebetulan ada seorang Ikhwan yang bla..bla..bla…</p>
<p>Temannya Teman : Hah? Aku… uhm… anu… *bingung harus menjawab apa*</p>
<p>Moral cerita : Tidak ada yang menakutkan untuk dijalani sepanjang dilandasi dengan niatan baik.</p>
<p>Salam,</p>
<p><a href="http://www.wiwikwae.com">-wiwikwae-</a></p>
<p>Ps : semua nama diatas bukanlah nama sebenarnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wiwikwae.com/2009/12/ta%e2%80%99aruf.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>SEKTE 2.0</title>
		<link>http://www.wiwikwae.com/2009/11/sekte-20.html</link>
		<comments>http://www.wiwikwae.com/2009/11/sekte-20.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 12:01:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwikwae</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[FEATURED]]></category>

		<category><![CDATA[GUDANG BERITA]]></category>

		<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wiwikwae.com/?p=337</guid>
		<description><![CDATA[Axel Michaels, seorang Indolog, menulis dalam bukunya tentang Hinduisme bahwa dalam konteks India kata &#8220;sekte tidak menunjukkan adanya perpecahan atau komunitas yang terasingkan, melainkan lebih pada suatu tradisi yang terorganisir, yang biasanya didirikan oleh si pendiri yang melakukan praktik-praktik asketik.&#8221; Dan menurut Michaels, &#8220;Sekte-sekte India tidak memusatkan perhatian pada ajaran sesat, karena tidak adanya pusat atau pusat yang menuntut membuat hal ini tidak mungkin. Sebaliknya, fokusnya adalah pada para penganut dan pengikutnya. (dikutip dari Wikipedia)
Di era New Wave, kata sekte disini diartikan sebagai sebuah komunitas yang sengaja dibentuk untuk penciptaan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-338" title="sekte" src="http://www.wiwikwae.com/wp-content/uploads/2009/11/sekte-300x230.jpg" alt="sekte" width="300" height="230" /><em>Axel Michaels, seorang Indolog, menulis dalam bukunya tentang <a title="Hinduisme" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hinduisme">Hinduisme</a> bahwa dalam konteks India kata &#8220;sekte tidak menunjukkan adanya perpecahan atau komunitas yang terasingkan, melainkan lebih pada suatu tradisi yang terorganisir, yang biasanya didirikan oleh si pendiri yang melakukan praktik-praktik asketik.&#8221; Dan menurut Michaels, &#8220;Sekte-sekte India tidak memusatkan perhatian pada <a title="Ajaran sesat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ajaran_sesat">ajaran sesat</a>, karena tidak adanya pusat atau pusat yang menuntut membuat hal ini tidak mungkin. Sebaliknya, fokusnya adalah pada para penganut dan pengikutnya. (dikutip dari Wikipedia)</em></p>
<p>Di era New Wave, kata sekte disini diartikan sebagai sebuah komunitas yang sengaja dibentuk untuk penciptaan sebuah &#8220;cult brand&#8221;.  Dimana para pengikutnya yang terjaring melalui jejaring social (seperti microblog, web komunitas, portal online, dll) akan dijadikan sebagai <em>sectator </em>atau pengikut setia dari suatu merek.</p>
<p>Social media, dapat melakukan pendekatan secara horizontal, yakni menghubungkan satu pelanggan dengan pelanggan lainnya. Bahkan lebih dari itu. Social media dapat mengubah istilah pelanggan menjadi anggota, dimana tentu saja hubungan yang tercipta akan semakin erat, sehingga <em>cult brand</em> sebagai sebuah pencapaian tertinggi suatu merek dapat dengan mudah tercapai.</p>
<p>Dalam tulisan Hermawan Kertajaya yang berjudul <a href="http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/11/23/08022648/cerita.nike.sebagai.konektor.eksperiensial">Cerita Nike Sebagai Konektor Eksperiensial</a> menyebutkan bahwa Nike telah menggeser level hubungan-dari mass menjadi lebih kearah <em>relationship marketing,</em> melalui portal online nya. Nike telah mengubah kedudukan pelanggannya menjadi anggota dari komunitas yang mereka ciptakan.</p>
<p>Seperti yang kita ketahui,  stereotipe antara pelanggan dan anggota sangatlah berbeda. Pelanggan cenderung hidup sendiri-sendiri, sementara anggota cenderung melakukan interaksi dan saling membantu. Jika sebuah produk atau perusahaan dapat melakukan perubahan posisi seperti yang dilakukan Nike, maka keuntungan yang didapat adalah bermunculannya para <em>advocator customer</em>. Orang-orang yang melakukan pembelaan terhadap suatu produk secara mati-matian.</p>
<p>Dan kemudian dalam pencapaian yang lebih tinggi lagi, komunitas tersebut akan dapat digiring ke dalam suatu sekte 2.0, dimana belief akan mengikat para pemujanya dengan menjadikan produk tersebut sebagai &#8220;Roh&#8221; dalam sekte yang dimaksud.</p>
<p>Pencapain yang tentunya sangat memuaskan bagi para pemegang merek. Dan <a href="http://www.markplusconference.com/">Bloggers @ MarkPlus Conference 2010</a>,  jika didekati dengan pendekatan yang unik sesuai karakteristik mereka, dapat dijadikan  <em>sectator</em> tersendiri dalam sekte 2.0 selanjutnya.</p>
<p>Selamat bergabung!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wiwikwae.com/2009/11/sekte-20.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>HUKUM KEKEKALAN ENERGI</title>
		<link>http://www.wiwikwae.com/2009/11/hukum-kekekalan-energi.html</link>
		<comments>http://www.wiwikwae.com/2009/11/hukum-kekekalan-energi.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 02:53:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwikwae</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[FEATURED]]></category>

		<category><![CDATA[GUDANG INSPIRASI]]></category>

		<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wiwikwae.com/?p=329</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;&#8220;Energi di dunia ini bersifat tetap dan tidak akan diciptakan lagi serta tidak akan pernah hilang, yang ada hanyalah berubah bentuk&#8221;
Begitu tulisan yang saya baca pada sebuah buku yang sangat inspiratif. Bercerita tentang buah perbuatan yang pasti akan kembali ke empunya dengan jumlah yang sama, tidak kurang, juga tidak lebih. Persis, sesuai besaran energi yang dikeluarkan untuk melakukan perbuatan tersebut. Tak peduli apakah perbuatan tersebut bersifat positif maupun negatif, semua pasti kembali kepada empunya.
KARMA. Ada sebagian orang menyebutnya demikian.
Jumlah usaha = hasil usaha
Demikian rumusan yang tertulis dalam buku tersebut.
Jika kita ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><img class="alignleft size-medium wp-image-331" title="alam" src="http://www.wiwikwae.com/wp-content/uploads/2009/11/alam-300x199.jpg" alt="alam" width="300" height="199" />&#8220;<strong>&#8220;Energi di dunia ini bersifat tetap dan tidak akan diciptakan lagi serta tidak akan pernah hilang, yang ada hanyalah berubah bentuk&#8221;</strong></em></p>
<p>Begitu tulisan yang saya baca pada sebuah buku yang sangat inspiratif. Bercerita tentang buah perbuatan yang pasti akan kembali ke empunya dengan jumlah yang sama, tidak kurang, juga tidak lebih. Persis, sesuai besaran energi yang dikeluarkan untuk melakukan perbuatan tersebut. Tak peduli apakah perbuatan tersebut bersifat positif maupun negatif, semua pasti kembali kepada empunya.</p>
<p>KARMA. Ada sebagian orang menyebutnya demikian.</p>
<p>Jumlah usaha = hasil usaha</p>
<p>Demikian rumusan yang tertulis dalam buku tersebut.</p>
<p>Jika kita melakukan tindak kebaikan yang mengeluarkan energi sebesar 100, maka 100 pula hasil kebaikan yang akan kita nikmati. Pun sebaliknya dengan tindakan yang sifatnya negatif. Alam merespon setiap energi yang dikeluarkan oleh penghuni &#8220;rumahnya&#8221;. Dan seperti janjinya, semua itu akan dikembalikan lagi sesuai jumlahnya, tidak kurang, tidak lebih, yang ada hanyalah berubah bentuk.</p>
<p>Hmm&#8230; mungkin ini jawaban dari setiap keberuntungan dan kesialan yang menimpa kita. Saat kesialan menimpa, mungkin itu buah dari energi yang entah disadari ataupun tidak telah kita keluarkan untuk melakukan tindakan negatif. Dan hal yang sama pula saat keberuntungan menghampiri.</p>
<p>Jadi diingatkan akan sesuatu&#8230;</p>
<p><a href="http://wiwikwae.com">Saya</a>, <a href="http://tukangmakan.com">dan</a> <a href="http://www.sofyanr.com">beberapa</a> <a href="http://ple-q.com">rekan</a> , waktu itu mempunyai niatan bagus untuk berbagi ilmu melalui kegiatan yang kemudian kami beri nama <a href="http://www.rotifresh.net">ROTIFRESH</a>. Untuk mewujudkan kegiatan tersebut, kami sepakat mendedikasikan waktu dan materi yang dipunya guna suksesnya acara. Mengorbankan waktu yang seharusnya bisa untuk istirahat setelah lelah bekerja seharian  serta materi yang tak seberapa kami punya untuk mengimplementasikan segala macam ide yang terkait dengan tujuan kami. Tak kami hiraukan berapa besaran energi yang telah keluar, fokus terwujudnya acara lebih penting dari semuanya.</p>
<p>Dan lihatlah! Alam tidak berbohong!</p>
<p>Energi positif yang telah kami keluarkan, dikembalikan lagi kepada kami dalam bentuk dilancarkannya setiap usaha yang tercipta.</p>
<p>Tak pernah kami sangka Perusahaan sebesar <a href="http://www.telkomspeedy.com">Telkom </a>berkenan menjadi pendukung terwujudnya acara berbagi ilmu -<a href="http://www.rotifresh.net">Rotifres</a>h. Demikian pula dengan <a href="http://www.santika.com/semarang-premiere.php">Hotel Santika Premiere Semarang</a>, yang memberikan dukungannya dengan menyediakan tempat untuk terselenggaranya acara secara gratis. Tidak hanya sebatas gratis, namun layanan yang diberikan sangat memuaskan, khas Hotel Santika.</p>
<p>Lelah kami pun terbayarkan dengan dukungan perusahaan-perusahaan sekelas mereka.</p>
<p>Saya kemudian berpikir lagi&#8230;</p>
<p>Lalu, bagaimana dengan negeri ini?</p>
<p>Apakah bencana-bencana yang kerap melanda merupakan buah dari pencairan energi negatif?</p>
<p>Bisa jadi seperti itu.</p>
<p>Terlalu banyak kejahatan  kolektif yang telah terjadi. Energi negatif yang dikeluarkan untuk melakukan korupsi secara berlapis sudah mengakar sangat kuat di negeri tercinta. Energi yang tentunya sangat besar, karena dilakukan secara kolektif. Maka tak heran pula, kalau pengembaliannya pun sebesar energi  tersebut. Bencana yang tak ada habisnya.</p>
<p>Alam benar-benar tidak pernah berbohong.</p>
<p>Mungkin sebagian dari petinggi itu masih tidak tergerak hatinya akan bencana-bencana tersebut. Mungkin mereka tidak ambil pusing karena bencana tersebut terjadi dibelahan Indonesia bagian lain, bukan di tempat mereka tinggal.</p>
<p>Tapi perlu diketahui, alam tidak pernah berbohong. Energi negatif yang terus kalian tabung, akan terus tersimpan, tidak akan pernah hilang, dan suatu saat akan mencair, dalam  bentuk yang mungkin tidak akan kalian sangka sekalipun.</p>
<p>Soeharto, menerima hasil pencarian energi negatifnya salah satunya dalam bentuk diturunkan secara paksa oleh rakyat Indonesia, dan itu merupakan catatan kelam dalam hidup seorang Soeharto yang tidak kita pungkiri juga menanamkan jasa baiknya untuk negeri ini.</p>
<p>Selagi masih ada waktu, marilah tebus energi2 negatif yang telah keluar dengan mengeluarkan energi positif sebanyak mungkin. Sehingga kelak, kala alam mengembalikan tabungan energi negatif tersebut dapat dibarengi pula dengan pengembalian energi positif yang telah kita keluarrkan. Hingga hasil dari pencairan energi negatif tersebut tidak akan begitu telak terasa.</p>
<p>Jangan sampai, pencairan tabungan energi negatif tersebut dikembalikan oleh Alam saat kita sudah tua, saat dimana seharusnya hanya kenikmatan yang kita rasakan.</p>
<p>Naudzubillahi min dzalik&#8230;</p>
<p>-Novemberain&#8217;09-</p>
<p><em>*picture courtesy: Ramlan Ritonga</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wiwikwae.com/2009/11/hukum-kekekalan-energi.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>PENCARIAN SEBUAH NILAI</title>
		<link>http://www.wiwikwae.com/2009/11/pencarian-sebuah-nilai.html</link>
		<comments>http://www.wiwikwae.com/2009/11/pencarian-sebuah-nilai.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 02:33:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwikwae</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[FEATURED]]></category>

		<category><![CDATA[GUDANG INSPIRASI]]></category>

		<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wiwikwae.com/?p=314</guid>
		<description><![CDATA[Seorang sahabat laki-laki untuk kesekian kalinya datang ke tempat saya dan mulai mengeluhkan perkawinannya yang penuh dengan “huru-hara”.
“Semalam aku “perang” lagi. Duh, capek wie… “
Dilain waktu dia pernah berkata,
“Sepertinya aku sudah mulai depresi, stress beraat! Pekerjaan di kantor dan tingkah istri yang selalu mengajak bertengkar benar-benar telah membuat otakku lelah untuk bekerja. Aku hampir gila, dan tak tahu lagi mesti gimana.”
Di waktu yang lain lagi, dimana kesabaran saya untuk mendengar keluhan-keluhan senada telah pada titik jenuh, saya mulai sedikit keras menyentilnya :
Sahabat : Pertengkaran dengan istriku akhirnya seperti sebuah keharusan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-315" title="freedom" src="http://www.wiwikwae.com/wp-content/uploads/2009/11/freedom-300x199.jpg" alt="freedom" width="300" height="199" />Seorang sahabat laki-laki untuk kesekian kalinya datang ke tempat saya dan mulai mengeluhkan perkawinannya yang penuh dengan “huru-hara”.</p>
<p><em>“Semalam aku “perang” lagi. Duh, capek wie… “</em></p>
<p>Dilain waktu dia pernah berkata,</p>
<p><em>“Sepertinya aku sudah mulai depresi, stress beraat! Pekerjaan di kantor dan tingkah istri yang selalu mengajak bertengkar benar-benar telah membuat otakku lelah untuk bekerja. Aku hampir gila, dan tak tahu lagi mesti gimana.”</em></p>
<p>Di waktu yang lain lagi, dimana kesabaran saya untuk mendengar keluhan-keluhan senada telah pada titik jenuh, saya mulai sedikit keras menyentilnya :</p>
<p><em>Sahabat : Pertengkaran dengan istriku akhirnya seperti sebuah keharusan dalam ritme rumah tangga kami. Aku lelah wie…</em></p>
<p><em>Saya       : Kenapa tidak mencoba untuk berpisah dengan istrimu saja? Mungkin itu jalan terbaik buat kalian berdua. Perceraian adalah hal yang dibenci Allah, tapi Allah lebih benci dengan kemudharatan. Dan menurutku, didasarkan oleh cerita-ceritamu, kondisi perkawinanmu sudah masuk ke dalam fase mudharat itu. Well, think about it wisely.”</em></p>
<p><em>Sahabat : Sempat terbesit keinginan untuk meninggalkannya, namun rasa “pekewuh” dengan keluarga besar ini telah menahan langkahku untuk tetap terpenjara dalam kondisi yang melelahkan jiwaku. </em></p>
<p><em>Saya : Rasa pekewuh yang kamu pelihara itu bukankah seperti memelihara bom waktu? Yang suatu saat bisa meledak dan menghancurkan semuanya, termasuk keluarga besarmu. Pesanku, jadilah manusia yang mempunyai integritas diri.</em></p>
<p>Kawan saya diatas bukan satu-satunya orang yang karena alasan moral -yang merupakan kesepakatan sosial, akhirnya mengabaikan integritas dirinya. Sartre, seorang nihilis dan penulis cemerlang sepanjang masa pernah berkata bahwa manusia bebas “secara radikal” karena dia selalu punya pilihan untuk menerima atau menolak. Dan dengan integritas diri yang dimiliki, manusia dengan sadar dapat memilh tanpa tekanan apapun dari luar, kewajiban, atau keharusan (apapun itu jenisnya) untuk bertindak sebagaimana mereka ingin lakukan.</p>
<p>Namun perlu diketahui, jika kebebasan radikal hanya dimengerti sebagai sebuah kebebasan untuk melakukan segala hal yang kita pilih tanpa ada pertimbangan tentang sebuah konsekuensi dari pilihan tersebut, maka definisi tersebut (mungkin) ideal namun tidak realistis.</p>
<p>Untuk sebagian orang, saya dikategorikan sebagai seorang pembosan, kutu loncat, hanya karena seringnya melihat saya berpindah-pindah kerja dalam waktu yang relatif singkat. Beberapa diantaranya bahkan mengkaitkan kondisi tersebut dengan shio kelinci yang menaungi saya.</p>
<p>Saya hanya tertawa jika mendengar julukan tersebut. Saya jadi teringat sebuah hotel tempat menampung aktifitas bekerja saya hingga lebih dari 5 tahun lamanya. 5 tahun??? Beberapa diantara mereka takjub mendengar bahwa saya pernah bekerja pada satu tempat dalam kurun waktu selama itu.  Bukan karena alasan gaji besar yang membuat saya bertahan disana –sebuah perusahaan lain yang pernah menggaji saya lebih besar dari hotel tersebut tetap tidak bisa mengekang kaki ini untuk beranjak pergi, banyaknya nilai pelengkap kehidupan yang saya dapatkan kala bekerja pada instansi tersebutlah yang membuat saya tetap bertahan. Selain mendapatkan gaji , fasilitas, dan juga posisi yang menggiurkan, saya juga mendapatkan kebebasan berpendapat, sebuah pengakuan atas hasil kerja yang mengagumkan, penghormatan, dan juga cinta sebagai pelengkap kehidupan pribadi saya. Untuk itu semua, saya kemudian mengabaikan load kerja dan pressure yang tak jarang diluar batas kemampuan bahkan yang pernah saya terima ditempat-tempat kerja setelahnya.</p>
<p>Ditempat lain? Beberapa diantaranya, tidak cukup berbesar hati untuk menerima sebuah perbedaan pendapat, bahkan yang lebih parah lagi ada yang kemudian mempersalahkan hasil kerja saya hanya karena saya tidak sependapat dengan cara kerjanya dan mengabaikan hasil kerja mengagumkan yang pernah saya berikan. Haruskah yang seperti ini saya pertahankan?</p>
<p>Dan untuk memilih atas semua tindakan tersebut diatas, saya mempercayakannya kepada naluri.</p>
<p>Naluri akan mendorong kita memilih tindakan-tindakan yang memberikan kita kebebasan, buka segala tindakan yang akan memperbudak kita. Jika kita bertindak melawan kebebasan itu, hal ini dikarenakan kita tidak memahami dengan jelas sifat dari tindakan-tindakan kita, atau karena tindakan-tindakan salah sebelumnya telah menjerat kita kedalam kebiasaan-kebiasaan yang merugikan.<br />
Dan sepanjang pegetahuan saya, naluri tidak pernah mengajak kita kearah yang menyesatkan. Hanya ketakutan kita akan sebuah kesepatakan popular yang dinamakan norma, moral dan sebagainya itulah yang kemudian membelenggu langkah kita akan sebuah kebenaran yang hakiki, yaitu kata hati…<br />
Sudahkah anda mendengarkan apa yang dikatakan hati anda hari ini?</p>
<p>salam,</p>
<p><a href="http://wiwikwae.com">-wiwikwae-</a></p>
<p><em>Peringatan : Tulisan ini tidak bisa dipahami hanya didasarkan pada apa yg tertulis, namun memerlukan pemahaman yang lebih dalam lagi pada setiap katanya. </em></p>
<p><em>*gambar diambil <a href="http://1.bp.blogspot.com/_g4bed6rbVoc/Si_vbRHGFEI/AAAAAAAAAAc/AQvNRfsSAbM/S700/freedom.jpg">disini</a><br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wiwikwae.com/2009/11/pencarian-sebuah-nilai.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>PAY IT FORWARD</title>
		<link>http://www.wiwikwae.com/2009/10/pay-it-forward.html</link>
		<comments>http://www.wiwikwae.com/2009/10/pay-it-forward.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Oct 2009 01:59:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwikwae</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[FEATURED]]></category>

		<category><![CDATA[GUDANG INSPIRASI]]></category>

		<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wiwikwae.com/?p=307</guid>
		<description><![CDATA[Beep..beep&#8230; Layar ponselku menyala, ada sms masuk.
- kamis, jam 9 mlm ada film bagus di ANTV, &#8216;Pay It Forward&#8217; Rugi kalo gak nonton.

Sms dari seorang sahabat itu telah mampu membuat saya bertahan di channel tv yang jarang saya tonton tersebut. Pay it forward,  film jadul yang sudah saya tonton beberapa kali. Tapi anehnya, setiap kali ada kesempatan untuk dapat menontonnya kembali, saya selalu tak pernah melewatkannya.
&#8220;Aku akan berbagi kebaikan kepada tiga orang, dan masing-masing dari tiga orang yang menerima kebaikanku tersebut harus membalasnya dengan cara membagi kebaikan kepada tiga ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #cc9933;"><span style="color: #000000;"><img class="alignleft size-medium wp-image-308" title="payitforward" src="http://www.wiwikwae.com/wp-content/uploads/2009/10/payitforward-172x300.jpg" alt="payitforward" width="172" height="300" />Beep..beep&#8230; Layar ponselku menyala, ada sms masuk.</span></span></p>
<p>-<span style="color: #000000;"> </span><span style="color: #cc9933;"><em style="color: #000000;"><strong>kamis, jam 9 mlm ada film bagus di ANTV, &#8216;Pay It Forward&#8217; Rugi kalo gak nonton</strong>.<br />
</em></span></p>
<p><span style="color: #000000;">Sms dari seorang sahabat itu telah mampu membuat saya bertahan di channel tv yang jarang saya tonton tersebut. Pay it forward,  film jadul yang sudah saya tonton beberapa kali. Tapi anehnya, setiap kali ada kesempatan untuk dapat menontonnya kembali, saya selalu tak pernah melewatkannya.</span></p>
<p><em><span style="color: #000000;">&#8220;Aku akan berbagi kebaikan kepada tiga orang, dan masing-masing dari tiga orang yang menerima kebaikanku tersebut harus membalasnya dengan cara membagi kebaikan kepada tiga orang yang lain, demikian seterusnya&#8230;&#8221;</span></em></p>
<p><span style="color: #000000;">Begitulah penjabaran sederhana tentang proyek Trevor (tokoh utama dalam film tersebut). Dia mengilustrasikannya di papan tulis dengan satu bulatan yang mempunyai 3 kaki, dan setiap kaki tersebut harus mempunyai 3 kaki lagi kebawah, begitu seterusnya. Persis seperti bisnis MLM yang marak di Indonesia, dimana setiap orang harus mencari downline supaya terbentuk jaringan bagus yang akan menguntungkan sang upline.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Sejenak proyek Trevor yang dia presentasikan di depan kelas tersebut sedikit mengusik pikiran jahil saya. <em>Seandainya saja aku ada diantara anak-anak di kelas tersebut, mungkin aku akan interrupt dan bilang, </em><em>&#8220;Brarti kamu ga tulus dong Trev, memberikan kebaikan dengan mengharapkan imbalan. Meski imbalannya berupa kebaikan pula, tetep aja namanya ndak tulus itu.&#8221;</em></span></p>
<p><span style="color: #000000;">Tapi, beberapa saat kemudian saya justru tersentil sendiri dengan pemikiran jahil tersebut. </span></p>
<p><span style="color: #cc9933;"><span style="color: #000000;">Di dunia ini, mana ada sih yang tanpa pamrih?<br />
</span></span></p>
<p><span style="color: #cc9933;"><span style="color: #000000;">Seorang Ibu yang terkenal akan kasihnya nan tuluspun tetap mengharapkan pamrih akan kasih yang telah dia berikan tersebut. Meskipun pamrih tersebut tidak selalu harus berujud suatu sanjung puja apalagi harta. Melihat sang anak bisa tumbuh menjadi &#8220;kebanggaan hati&#8221; mungkin sudah cukup menjadi bayaran atas segala pengorbanannya dalam membesarkan sang buah hati tersebut.</span></span></p>
<p><span style="color: #cc9933;"><span style="color: #000000;">Bahkan saya sendiri -si pemikir jahil, juga seperti itu. Dulu ketika masih kuliah, dalam perjalanan pulang Jogja-Semarang sering saya jumpai ibu-ibu tua, mbak-mbak yang kerepotan karena harus membawa balita, dan bapak-bapak yang sangat renta,</span><span style="color: #000000;"> tidak kebagian tempat duduk dalam bis non patas yang saya tumpangi. Jika melihat kondisi seperti itu, hati saya pasti tersentuh. Kursi empuk penghilang penat dalam menempuh perjalanan yang lumayan lama pun pasti akan saya tawarkan ke mereka.</span><em><span style="color: #000000;"> Tidak apa-apa berdiri 4 jam, toh aku masih cukup muda, bahkan dengan berdiri, seisi bis bisa melihat betapa keren penampilanku. </span></em><span style="color: #000000;">Begitu kira-kira pikiran positif yang terlintas kala itu. :p</span></span></p>
<p><span style="color: #000000;">Terlepas dari pemikiran positif tersebut, sebenarnya dalam hati kecil saya ada sebuah pengharapan atas kebaikan yang telah terberikan. Semoga kelak, dimanapun orangtua atau keluarga saya berada akan selalu mendapat perlakuan manis seperti saya memperlakukan mereka. Memang sih, pengharapan itu bukan untuk saya, tapi tetap saja ada sebuah pamrih yang terselip.</span></p>
<p><span style="color: #cc9933;"><em style="color: #000000;">jadi, ndak ada salahnya tho klo Trevor ingin sebuah balasan atas kebaikannya? Lha wong Tuhan juga sering ngiming-imingi * kita dengan berbagai macam pahala untuk beraneka macam kebaikan yang kita lakukan kok, palagi cuman Trevor??<br />
</em><br />
<span style="color: #000000;">Saya pun semakin terpojok, manakala pikiran jahil yang lain ikut pula mengingatkan,</span></span></p>
<p><span style="color: #cc9933;"><em style="color: #000000;">Lagian ngapain kamu ngurusin kebaikan yang sepaket dengan pamrih tersebut? Lha kamu sendiri, udah diiming-imingi pahala yang begitu menggiurkan aja ga pernah konsisten dalam melakukan kebaikan kok, palagi ga dikasih apa-apa???<br />
</em><br />
<span style="color: #000000;">Tiba-tiba mata saya menjadi berkaca-kaca. Buliran air mata haru&#8230;  Entah karena sentilan pemikiran jahil yang begitu tajem, atau memang film Pay It Forward yang pada endingnya sungguh menyedihkan tersebut. </span></span></p>
<p><span style="color: #000000;">Ah&#8230; film yang benar-benar inspiratif. Saya jadi diingatkan untuk selalu Pay It Forward (PIF) atas segala nikmat yang saya rasakan selama ini.</span></p>
<p>Selamat berbagi,</p>
<p>-wiwikwae-</p>
<p><em>ps : repost dari blog terdahulu dengan sedikit polesan pembaharuan.</em></p>
<p><em>*gambar diambil dari google</em></p>
<p><span style="color: #cc9933;"><span style="color: #000000;"><br />
</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wiwikwae.com/2009/10/pay-it-forward.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
