Home » FEATURED, GUDANG BERITA, GUDANG INSPIRASI, HEADLINE

AKHIRNYA KE LAUT

21 May 2010 10 komenwae

laut1Laki-laki muda itu terpekur di tepian sang perkasa. Larut. Hanyut. Angannya terbawa oleh aliran air yang tak seberapa deras itu. Angan yang sungguh sederhana. Tentang sebuah kabar keindahan Sang Amerta. Dan pengembaraan pun dimulai.

Angannya mulai mengapung, menyusuri setiap kelokan yang ada. Terus mengapung. Menikmati keindahan yang tersaji di sepanjang aliran yang ia lalui. Sesekali sebongkah batu besar mengganjal laju perjalanannya. Namun tak mengapa baginya, perjalanan tetap harus diteruskan. Sungai ini begitu lebar, begitu panjang, sehingga tak ada yang perlu dikhawatirkan. Bongkahan batu, riak-riak kecil, dan luberan air yang kadang tak terkendali melewati pinggiran sungai, membuat perjalanannya lebih bermakna. Ada perjuangan yang harus ia keluarkan. Dan itu membuatnya menjadi hidup.

Laju air masih terus membawanya, jauh, dan semakin jauh. Bongkahan batu tak lagi menjadi kendala, karena dia sudah belajar bagaimana cara berkelok diantaranya. Masih terus melaju, melawan riak-riak ombak yang seolah-olah ingin menghempaskannya ke tepian.

“Tak mengapa kalaupun harus sedikit menepi. Toh aliran air ini akan kembali membawaku ke tengah, menjauh dari gangguan akar-akar pohon yang menjuntai di tepian.”

Begitu optimis. Memang begitulah seharusnya hidup.

Lajunya semakin lincah. Tak lagi ada halangan, karena semua telah ia pelajari. Tak ada lagi yang namanya tantangan, karena semua telah ia taklukkan. Namun ia terus melaju. Mengikuti aliran air yang terus membawanya. Menjauh…. dan semakin jauh…..

Hingga akhirnya ke laut.. Dimana segala simpang air kehidupan bermuara…

Selamat jalan Gesang!

Salam,

-wiwikwae-

*Terinspirasi oleh Lagu Bengawan Solo

————————————————————–

Catatan : Gesang, menciptakan  Lagu Bengawan Solo pada tahun 1940, ketika ia beusia 23 tahun. Terinspirasi oleh sungai terpanjang dan terbesar di Pulau Jawa. Proses penciptaan lagu ini memakan waktu sekitar 6 bulan. Setelah Perang Dunia II, pasukanJepang yang kembali ke negaranya membawa lagu ini bersama mereka. Di sana, lagu ini menjadi populer setelah dinyanyikan berbagai penyanyi, di antaranya Toshi Matsuda. (Sumber : wikipedia)

*gambar diambil dari sini

10 komenwae »

  • Deniar said:

    Horee… komennya dibuka. Tadi mau komen nggak bisa.

    Selamat jalan, mbah Gesang. Akhirnya ke laut….

  • Chic said:

    benar kata pepatah, manusia mati meninggal nama. cuma kita yang bisa membuat itu menjadi meninggalkan nama yang baik, atau buruk.
    Pak Gesang boleh tiada, tapi karyanya abadi :)

  • Ina said:

    Selamat jalan Sang Maestro. Nama dan karyamu akan kami kenang.
    *merinding beneran*

  • wiwikwae said:

    *jadi ikutan merinding deh…*

  • budiono said:

    selamat jalan eyang..

  • tukangecuprus said:

    Tetap optimis! *opotho?

  • wiwikwae said:

    @ngecuprus : lha mbuh

  • rusabawean said:

    puitis juga ternyata mbak wie wae ini
    :)

  • capoenk said:

    “Tak mengapa kalaupun harus sedikit menepi. Toh aliran air ini akan kembali membawaku ke tengah, menjauh dari gangguan akar-akar pohon yang menjuntai di tepian.”

    sip ini…

  • dodi ichwana said:

    selamat akhirnya ke lautjuga..
    Salam kenal…

    kunjungi juga blog saya di ichwana.blogdetik.com dan di blog.unand.ac.id/ichwana

    website kumpulan jurnal : http://repository.unand.ac.id
    bagaimana cara mendapatkan uang gratis melalui internet ? disini caranya

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.